Wednesday, March 5, 2014

BERBUAT BAIK YUKK


BERBUAT BAIK KEPADA SEGALA SESUATU

http://www.alamsari.com/images/main-image001.jpg


عن أبي يعلى شداد بن أوس رضي الله عنه عن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : " إن الله كتب الإحسان
على كل شيء , فإذا قتلتم فأحسنوا القتلة , وإذا ذبحتم فأحسنوا الذبحة وليحد أحدكم شفرته وليرح ذبيحته " رواه مسلم
Dari Abu Ya'la, Syaddad bin Aus radhiyallahu 'anhu, dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam beliau telah bersabda : “ Sesungguhnya Allah mewajibkan berlaku baik  pada segala hal, maka jika kamu membunuh hendaklah membunuh dengan cara yang baik dan jika kamu menyembelih maka sembelihlah dengan cara yang baik dan hendaklah menajamkan pisau dan menyenangkan hewan yang disembelihnya”. (Muslim no. 195)
Sering kali timbul dalam benak kita tentang berbuat baik kepada segala sesuatu. Kadang kita mengatakan apakah kita harus berbuat baik kepada benda mati. Secara logika berbuat baik kepada benda mati tidak ada manfaatnya karena otomatis yang namanya benda mati tidak akan merasakan apa-apa. Adapaun berbuat baik kepada manusia atau kepada makhluk hidup secara umum itu wajar karena terbetik dalam hati bahwa  manusia itu memiliki perasaan.

Friday, February 28, 2014

NONTON TANPA PENUNTUN

KETIKA NONTON TANPA PENUNTUN
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj9MBak-5svBdKWStQRFiH811cX3aqqA5V5CaAAjcydU7SvY6THx5wphXhaQqmw6zqJJS86e9l6PyJhW0nWGcNNf_16_EmPxB83CAVnH1rSycjXMAgcqbEp7848rKgyg1XUjUGyOsr_Z6M/s1600/nonton+tv.jpg
     Salah satu media yang tidak asing lagi di mata masyarakat adalah televisi. Media yang paling berpengaruh dalam kehidupan masyarakat. Mereka mengamalkan apa yang ia dapatkan dalam tontonan tersebut, sehingga menjadi tuntunan.
Tontonan Yang Tidak Syar’i
   Hari ini, kita saksikan bersama seorang lelaki berbaju muslim jalan berduaan atau berboncengan dengan seorang wanita yang bukan mahramnya. Mereka ditarbiyah oleh tontonan berupa film, konser musik yang berlabel islam. Secara otomatis orang awam akan mengira dan mencontoh, itu boleh-boleh saja. Bahkan, tidak sedikit dari film-film yang berlabel Islam menghalalkan hubungan antara dua orang yang berlawanan jenis tanpa ikatan pernikahan.
Padahal, “Aku tidak berjabat tangan dengan wanita, sesungguhnya perkataanku terhadap seorang wanita sama dengan perkataanku terhadap seratus wanita.” (H.R. At-Tirmidzi, An-Nasa’i dan Ibnu Majah)
Kalau berjabat tangan saja tidak boleh, bagaimana lagi dengan .
    Fakta pada hari ini dalam masyarakat islam. Sebagian besar telah mengikuti gaya-gaya artis yang sering jadi tontonan dalam sinetron ataupun konser musik dan tayangan-tayangan yang lainnya. Mereka ingin sama dengan gaya dan tindak tanduk artis yang ia idolakan. Padahal Rasulullah berkata:
“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka ia bagian dari kaum tersebut.” (HR. Abu Dawud)
   Hadits ini jelas menerangkan bahwa barangsiapa yang mengikuti suatu kaum maka ia bagian dari mereka dan nanti ia akan dikumpulkan di hari kemudian bersama kaum yang ia cintai.
   Maka tidak pantaslah bagi seorang muslim mengikuti gaya-gaya mereka yang bathil dan dimurkai oleh Allah azza wajalla. Dan itu bukan bagian dari syari’at kita dan mereka juga bukan suri tauladan kita yang mesti kita ikuti.
“Sungguh telah ada pada diri Rasulullah suri tauladan yang baik” (QS. An-fal: 21).
Inilah suri tauladan kita yang patut kita ikuti yang telah dijamin oleh Allah kualitasnya dan dijamin masuk surga bagi yang mengikutinya. Adapun yang menyelisihi beliau seperti kebanyakan artis-artis maka itu berada di bawah keinginan Allah. Kalau  Allah mau, maka Allah akan mengampuninya dan kalau Allah mau maka Ia akan mengazabnya.
Akibat Negative Tontonan  
   Ketika kita berkunjung kerumah masyarakat-masyarakat yang ada disekeliling kita, kita akan menyaksikan tv dirumah-rumah mereka, kebanyakannya menyaksikan siaran-siaran yang tak berguan untuk diri dan keluarganya. Bahkan hasil tampilan dari sebagian siaran-siaran berhasil mempengaruhi orang tua untuk merubah penampilan anaknya supaya bisa menjadi seperti apa yang ia saksikan.
   Bukan cuma itu, para penggemar sinetron-sinetron telah banyak dari kalangan orang tua mengajari anaknya bernyanyi dan berjoget. Dan di antara mereka tidak malu bahkan bangga ketika anaknya ikut serta dalam permainan elctone atau orkez. Padahal ini adalah suatu kemaksiatan yang patut kita jauhi dan dijauhkan dari jangkaun anak-anak dan dari semua kalangan.
    Setelah membaca dampak negative dari media ini maka kadang kita bertanya, bagaimana cara mengatasinya?
Maka kami akan mencoba memaparkan beberapa solusinya sebagai berikut: 
1.   Ganti Siaran Anda
     Tidak bisa juga dipungkiri bahwa di sisi lain televise juga memberikan tarbiyah yang baik kepada para penonotonnya, karena tidak semua siaran-siaran televisi menampilkan kemaksiatan dan kebhatilan. Dan itulah media yang bagaikan pisau yang memiliki dua mata, ia bermanfaat ketika dipakai memotong sayur-sayuran dan berbahaya jika dipakai membunuh manusia yang tidak halal darahnya untuk dibunuh dan lain sebagainya. Begitulah pula dengan media ini, juga memiliki dua mata yang yang sama seperti pisau ketika digunakan untuk kebaikan maka ia akan membawa pemiliknya pada kebaikan dan begitupun sebaliknya.
   Siaran-siaran ini tidak berisikan  hal-hal yang berlawanan dengan syri’at islam sehingga bagus dikaji untuk semua kalangan, karena tujuannya adalah untuk memberikan  cahaya untuk ummat dan bangsa.   Siaran seperti inilah yang dapat menjadikan kita akan lebih paham akan agama. Maka dari itu bagi orang tua agar memperhatikan anaknya sedetail mungkin dan mengarahkan anaknya kepada hal-hal yang berguna.
2.Memahamkan Orang Tua
    Salah satu sebab kerusakan anak-anak hari ini adalah kurangnya bimbingan orang tua terhadap anaknya. Anak yang seharusya dididik dengan pemahaman agama malah dididik dengan cara yang tidak islami bahkan bertolak belakang dengan agama islam itu sendiri. Mereka menganggap bahwa hal yang terbaik untuk mendidik anak adalah dengan membuat mereka sukses seperti pemain-pemain film ataupun sinetron yang bebas bergerak bebas bercampur antara lawan jenis.
    Guru pertama seorang anak adalah orang tuanya sendiri sehingga apa yang diajarkannya sejak kecil itulah yang terbawa sampai dewasa. Anak tidak diberikan pemahaman tentang agama karena yang akan memberikan pemahaman juga tidak paham. Ia merasa itu tidak penting untuk diajarkan. Sehingga pada hari ini telah banyak anak-anak yang melawan orang tuanya setelah dewasa, mengapa? Karena ia tidak pernah mengenal islam yang sebenarnya. Inilah akibat didikan orang tua yang tak mengenal islam yang sebenarnya.
     Hal ini karena kurangnya perhatian dari orang tua, dari kecil ia sudah menyaksikan film-film yang katanya hanya untuk orang dewasa tapi orang dewasapun dan dari kalangan manapun tidak boleh menyaksikan tayangan tersebut. Dari tontonan inilah bermula tarbiyah anak-anak sehingga menjadi tuntunan sampai sekarang. Mereka menjadikan tontonan itu sebagai tuntunan sehingga apa-apa yang ia saksikan ia menjadikannya sebagai qudwatun hasanah (contoh yang baik) dengan mengikuti gaya-gaya yang ia saksikan.
   Maka salah satu solusinya adalah dengan menjauhkan anak-anak dari siaran-siaran yang tidak islami. Dan dengan ini juga diharapkan bagi orang tua untuk membekali anak-anaknya dengan ilmu syar’i karena itulah kunci dari segala kebaikan.
3.Orang Tua Adalah Tuntunan
    Orang tua adalah tuntunan bagi anak-anaknya, maka dari itu wajib bagi orang tua untuk mentarbiyah anaknya dengan tarbiyah yang benar, ia wajib menjadi tontonan atau cermin bagi anak-anaknya sehingga ia bisa menjadi tuntunan untuk mereka dari kecil hingga dewasa dan seterusnya. In sya Allah
   Dan guru yang paling banyak perannya dalam diri seorang anak adalah orang tua. Dengan itu pantaslah orang tua yang paling banyak memberikan pelajaran kepada anaknya. Karena itulah yang akan ia bawa sampai dewasa nantinya.
4.      Jaga Pergaulan
   Pergaulan seorang anak juga perlu dikontrol dan diperhatikan Karena pergaulan bisa merubah sikap seorang anak 99% , banyak telah kita saksikan seorang anak yang hidup dikalangan keluarga yang paham akan agama dan terdidik dari kecil, tapi setelah dewasa sikapnya berubah dan tidak lagi patuh kepada Allah. Ini karena pergaulannya disekolah dan ditempat-tempat lain yang sangat berpenagruh. Maka dari itu perlu diperhatikan semua gerak-geriknya, baik ketika menonton ia nonton apa, baik ketika bergaul ia bergaul dengan siapa, dan sekolah, sekolah dimana dan lain sebagianya.
   Semenjak kecil seorang anak memang harus dijauhkan dari tontonan-tontonan yang tidak syar’I karena anak-anak itu seperti pohon, ketika pohon masih kecil masih bisa di miringkan kiri dan kanan, tapi ketika sudah besar dan menjulang tinggi maka pohon itu tidak bisa lagi dimiringkan kiri dan kanan, bahkan pohon itu akan patah ketika dipaksakan. Begitupun dengan anak-anak ketika masih kecil masih bisa diarahkan kiri dan kanan, artinya ia masih nurut dan masih bisa diatur. Tapi ketika seorang anak dididik ketika dewasa maka ia akan seperti pohon yang sudah besar dan menjulang tinggi susah untuk diarahkan. Maka arahkanlah ia kejalan yang benar sebelum ia menjadi dewasa.
Mari mentarbiyah diri dan orang lain dengan benar dan menjadi tontonan sekaligus tuntunan keluarga dan masyarakat. Semoga bermanfaat
Abu uwais  


TUNGGU KEDATANGANKU

SUDAH SIAPKAH ANDA?

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhJutj3UPdib3RIE8sZpZ0FSEJaHly74ZRugcrgksZXnbzLkFDp8yHpOrrz0x5n9Xg_3A7uf1WmbGlIfxdhT4v2c0nUW4WvwJ47V9J_E3CdNhQu6x9wm3i2vHRXWhmBHvnw9XzvsVGcsRo/s1600/Hayat+Al-Maut+Fi+Bayan+Samaa+Al-Amwat+By+Ahmad+Raza+Khan+Pdf.jpg
Katakanlah: "Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan."
(QS. Al-jum’ah: 07)
            Kelahiran manusia di muka bumi ini adalah salah satu bentuk proses untuk menguji anak cucu Adam, dan dalam ujian itu hanya ada dua kemungkinan yang terjadi. Entahkah mereka bersyukur kepada Allah atau kufur. Allah berfirman dalam surah al-insan “entahkah ia bersykur atau kufur” . Ujian itu akan Allah berikan dalam setiap lembaran kehidupannya dalam suka maupun duka. Tapi perlu kita ketahui bahwa  Allah tidaklah menguji suatu kaum kecuali dengan kesanggupannya, tapi kenapa manusia kadang mengatakan bahwa aku tidak sanggup menghadapi cobaan yang ada. Itu karena mereka tidak mau mencoba dan berusaha, dengan mencoba dan berusaha semua bisa dilakukan meskipun harus gagal beberapa kali, tapi perlu diketahui bahwa kesuksesan adalah kegagalan yang menampakkan wajah aslinya. Maka dari itu tidak ada kata menyerah untuk menghadapi cobaan yang diberikan Allah azza wajalla, karena Allah dalam Alquran menyebutkan bahwa Allah tidaklah memberikan cobaan kepada hambanya melainkan sesuai dengan kesanggupannya, artinya Allah sudah mengukur sedemikian rupa antara cobaan dengan hamba-hambanya, sehingga tidak ada yang tidak cocok dengan cobaan yang diberikan, karena Allah adalah sebaik-baik pengatur dan tidak mungkin salah karena Dia-lah yang maha benar.

Monday, November 18, 2013

diam kadang lebih baik

KETIKA AKU HARUS TERDIAM
ما يلفظ من قول إلا لديه رقيب عتيد
(Qaf : 18)
“Tidak ada suatu ucapan pun yang diucapkan melainkan ada disampingnya malaikat pengawas yang selalu hadir”
   Ketika manusia diperuntukkan dengan dua permasalahan antara diam dengan berbicara, maka saat itu manusia akan terbagi menjadi dua bagian beserta pilihan-pilihan yang mereka kehendaki:
1.  Orang yang paham akan urgensi waktu
 Orang yang seperti ini ketika diperuntukkan dengan permasalahan yang seperti ini maka ia akan memilih dua pilihan:
a.  Diam dari keburukan
 Seseorang pernah ditanya tentang sifatnya yang selalu terdiam, maka beliau pun menjawab ” lidah itu seperti pedang, kalau aku berbicara tanpa ada faedah didalamnya maka ia akan membunuhku”
Dan seorang ulama juga pernah ditanya tentang sifat diamnya ia berkata “ aku telah menyesali perkataanku berkali-kali namun aku belum pernah menyesal dengan sifat diamku.”
b.   Mengatakan kebaikan
Sabda Rasulullah sallallahu alaihi wasallam:
“ Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia berkata baik atau diam”
    Hadits ini mengabarkan kepada semua manusia bahwa mengungkapkan kebaikan lebih baik daripada diam. Sedangkan diam lebih baik daripada mengungkapkan suatu keburukan. Ali ad-Daqqaq mengatakan bahwa diam dari kebenaran bagaikan setan yang bisu”   
2.  Orang yang lalai menjaga waktunya 
Orang  ini ketika berada dalam keadaan yang seperti ini, maka ia akan lebih condong ke beberapa hal:
a.  Ngomong semau gue
Orang yang tidak mengetahui harga sesuatu maka ia tidak akan pernah berhati-hati ataupun menjaga barang atau sesuatu tersebut, seperti halnya ketika seorang anak mendapatkan hadiah dari orang tuanya,dan membeli sesuatu dengan hasil keringatnya sendiri, maka anak itu akan lebih menjaga apa yang ia peroleh dari keringatnya sendiri. Mengapa? Karena ia tahu betapa letihnya ia sehingga ia bisa memperoleh hal tersebut, nah inilah yang dinamakan Qiimah (harga) sesuatu. Begitupun dengan waktu, barangsiapa yang mengetahui urgensi waktu, maka ia tidak akan pernah menyia-nyiakannya meskipun sedetik, ia akan mengisi waktu-waktunya dengan hal yang bermanfaat.
b.  Salah bergaul
Banyak bergaul akan menimbulkan banyak berbicara dan banyak bicara akan menimbulkan banyak perkataan kosong tak bermakna.

Umar bin khottob pernah engatakan “Barangsiapa yang banyak bicaranya banyak pula salahnya, dan barangsiapa yang banyak salahnya sedikit malunya, dan barangsiapa yang sedikit malunya banyak dosanya, dan barangsiapa yang banyak dosanya maka api neraka lebih pantas baginya”
c.  Beramal sia-sia
Orang yang seperti ini akan banyak melakukan hal-hal yang tidak berguna dalam kehidupannya, karena mereka tidak mengetahui hakekat dari waktu itu.
Padahal Rasulullah mengatakan :
من حسن الإسلام المرء تركه ما لا يعنيه
“ Salah satu ciri kebaikan islam seseorang adalah  meninggalkan apa-apa yag tidak bermanfaat baginya”
Luqman Al-Hakim pernah ditanya seseorang “apa yang bisa membuatmu  mendapatkan hikmah itu, beliau mengatakan “Aku tidak menanyakan sesuatu yang kuanggap cukup dan aku tidak mengatakan sesuatu yang tidak perlu”.

     Penyakit lisan ini tidak hanya menimpa orang-orang awam tapi tidak sedikit juga dari kalangan  penuntut ilmu syar’I yang terjangkit oleh penyakit lidah ini, survey membuktikan bahwa sebagian penuntut ilmu syar’I tidak bisa menjaga lisan-lisannya ketika mereka berkumpul satu sama lain,  bercanda, tertawa terbahak-bahak, dan membicarakan hal-hal yang tidak memberikan faedah kepada dirinya dan orang lain. Perkataan yang terlontarkan kadang menyakiti  hati para pendengar, padahal Allah mengatakan dalam Al-Quran :
“Artinya : Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mu’min dan mu’minat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesunguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata” [Al-Ahzab : 58]
Begitupun dengan perkataan seorang  ulama yang pernah ditanya tentang amalan yang paling afdhol, beliau berkata

Cinta Dari Langit Ke-7

                                         CINTA DARI LANGIT KE TUJUH          Cinta Allah selalu ada dimanapun  dan bagaimanapun keada...