Monday, November 18, 2013

diam kadang lebih baik

KETIKA AKU HARUS TERDIAM
ما يلفظ من قول إلا لديه رقيب عتيد
(Qaf : 18)
“Tidak ada suatu ucapan pun yang diucapkan melainkan ada disampingnya malaikat pengawas yang selalu hadir”
   Ketika manusia diperuntukkan dengan dua permasalahan antara diam dengan berbicara, maka saat itu manusia akan terbagi menjadi dua bagian beserta pilihan-pilihan yang mereka kehendaki:
1.  Orang yang paham akan urgensi waktu
 Orang yang seperti ini ketika diperuntukkan dengan permasalahan yang seperti ini maka ia akan memilih dua pilihan:
a.  Diam dari keburukan
 Seseorang pernah ditanya tentang sifatnya yang selalu terdiam, maka beliau pun menjawab ” lidah itu seperti pedang, kalau aku berbicara tanpa ada faedah didalamnya maka ia akan membunuhku”
Dan seorang ulama juga pernah ditanya tentang sifat diamnya ia berkata “ aku telah menyesali perkataanku berkali-kali namun aku belum pernah menyesal dengan sifat diamku.”
b.   Mengatakan kebaikan
Sabda Rasulullah sallallahu alaihi wasallam:
“ Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia berkata baik atau diam”
    Hadits ini mengabarkan kepada semua manusia bahwa mengungkapkan kebaikan lebih baik daripada diam. Sedangkan diam lebih baik daripada mengungkapkan suatu keburukan. Ali ad-Daqqaq mengatakan bahwa diam dari kebenaran bagaikan setan yang bisu”   
2.  Orang yang lalai menjaga waktunya 
Orang  ini ketika berada dalam keadaan yang seperti ini, maka ia akan lebih condong ke beberapa hal:
a.  Ngomong semau gue
Orang yang tidak mengetahui harga sesuatu maka ia tidak akan pernah berhati-hati ataupun menjaga barang atau sesuatu tersebut, seperti halnya ketika seorang anak mendapatkan hadiah dari orang tuanya,dan membeli sesuatu dengan hasil keringatnya sendiri, maka anak itu akan lebih menjaga apa yang ia peroleh dari keringatnya sendiri. Mengapa? Karena ia tahu betapa letihnya ia sehingga ia bisa memperoleh hal tersebut, nah inilah yang dinamakan Qiimah (harga) sesuatu. Begitupun dengan waktu, barangsiapa yang mengetahui urgensi waktu, maka ia tidak akan pernah menyia-nyiakannya meskipun sedetik, ia akan mengisi waktu-waktunya dengan hal yang bermanfaat.
b.  Salah bergaul
Banyak bergaul akan menimbulkan banyak berbicara dan banyak bicara akan menimbulkan banyak perkataan kosong tak bermakna.

Umar bin khottob pernah engatakan “Barangsiapa yang banyak bicaranya banyak pula salahnya, dan barangsiapa yang banyak salahnya sedikit malunya, dan barangsiapa yang sedikit malunya banyak dosanya, dan barangsiapa yang banyak dosanya maka api neraka lebih pantas baginya”
c.  Beramal sia-sia
Orang yang seperti ini akan banyak melakukan hal-hal yang tidak berguna dalam kehidupannya, karena mereka tidak mengetahui hakekat dari waktu itu.
Padahal Rasulullah mengatakan :
من حسن الإسلام المرء تركه ما لا يعنيه
“ Salah satu ciri kebaikan islam seseorang adalah  meninggalkan apa-apa yag tidak bermanfaat baginya”
Luqman Al-Hakim pernah ditanya seseorang “apa yang bisa membuatmu  mendapatkan hikmah itu, beliau mengatakan “Aku tidak menanyakan sesuatu yang kuanggap cukup dan aku tidak mengatakan sesuatu yang tidak perlu”.

     Penyakit lisan ini tidak hanya menimpa orang-orang awam tapi tidak sedikit juga dari kalangan  penuntut ilmu syar’I yang terjangkit oleh penyakit lidah ini, survey membuktikan bahwa sebagian penuntut ilmu syar’I tidak bisa menjaga lisan-lisannya ketika mereka berkumpul satu sama lain,  bercanda, tertawa terbahak-bahak, dan membicarakan hal-hal yang tidak memberikan faedah kepada dirinya dan orang lain. Perkataan yang terlontarkan kadang menyakiti  hati para pendengar, padahal Allah mengatakan dalam Al-Quran :
“Artinya : Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mu’min dan mu’minat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesunguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata” [Al-Ahzab : 58]
Begitupun dengan perkataan seorang  ulama yang pernah ditanya tentang amalan yang paling afdhol, beliau berkata
“ amalan yang paling afdhol adalah memasukkan rasa bahagia kedalam hati orang-orang mu’min”.
    Terkadang canda yang banyak bisa membuat para pecanda  mengutip  ayat-ayat Al-Quran, hadits, dan begitupun dengan  nama-nama sahabat, padahal hal-hal yang seperti ini tidaklah dibolehkan dalam syari’at islam. Sebagaimana yang Allah sebutkan :
 "Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan), tentulah mereka menjawab: "Sesungguh-nya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja". Katakanlah: "Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?". Tidak usah kamu minta ma`af, karena kamu kafir sesudah beriman". (At-Taubah: 65-66).
   Namun tidak bisa dipungkiri bahwa ketika kita membaca siroh Rasulullah dan para sahabat, mereka juga pernah bercanda dan tertawa, namun iman mereka seperti gunung, sehingga kata-kata mereka tidak keluar dari ruang lingkup yang ditetapkan oleh syari’at. Namun kita sekarang ketika bercanda, kadang keluar dari mulut-mulut kita kata-kata dusta tanpa kita sadari. Padahal telah jelas dari Rasulullah bahwa beliau berkata :
"Celakalah bagi orang yang berbicara lalu berdusta supaya dengannya orang banyak jadi tertawa. Celakalah baginya dan celakalah". (HR. Ahmad dan dinilai hasan oleh Al-Albani).
  Terkadang kita sebagai manusia biasa tidak perduli dengan hal-hal yang seperti ini, padahal Rasulullah dan para sahabatnya sangat berhati-hati dari hal-hal yang tidak berguna bagi mereka, begitupun dengan generasi sesudah mereka, selalu berhati hati dengan waktu, merka menyia-nyiakan waktunya seperti kebanyakan manusia menyia-nyiakan waktunya. Rasulullah mengatakan:
من حسن الإسلام المرء تركه ما لا يعنيه
“ salah satu ciri kebaikan islam seseorang adalah ,meninggalkan apa-apa yag tidak bermanfaat baginya”
Begitupun perkataan Abdullah bin umar  “ Ketika engkau memasuki waktu sore maka janganlah engkau menunggu waktu pagi,dan sebaliknya ketika engkau memasuki waktu pagi maka janganlah engkau menunggu waktu sore”
Perkataan beliau ini menunjukkan bahwa beliau meninggalkan apa yang tidak berguna bagi dirinya mulai waktu sore sampai datang waktu pagi.
    Maka dari itu siapa lagi yang pantas kita contohi selain mereka. Rasulullah sudah dijamin masuk syurga, namun beliau tetap saja beribadah sampai kaki beliau bengkak karenanya. Itulah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam terjamin syurga baginya, sedangkan kita sebagai manusia biasa belum mengetahui tempat kita di akhirat kelak, namun kita tetap saja melakukan banyak kemaksiatan. Waliyaudzubillah.
 Beberapa bencana-bencana lisan:  
1.  Berkata bohong atau berdusta
2.  Ghibah
 Dalam kitab Shahih Muslim hadits no. 2589 disebutkan.
“Artinya : Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya kepada para sahabat, “Tahukah kalian apa itu ghibah ?” Para sahabat menjawab, “Allah dan RasulNya yang lebih mengetahui. “Beliau berkata, “Ghibah ialah engkau menceritakan hal-hal tentang saudaramu yang tidak dia suka” Ada yang menyahut, “Bagaimana apabila yang saya bicarakan itu benar-benar ada padanya?” Beliau menjawab, “Bila demikian itu berarti kamu telah melakukan ghibah terhadapnya, sedangkan bila apa yang kamu katakan itu tidak ada padanya, berarti kamu telah berdusta atas dirinya”
3.     Membocorkan rahasia
4.     Mengejek dan mengolok-olok
Diriwayatkan oleh Bukhari dalam kitab Shahihnya hadits no.10 dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Ada seorang laki-laki yang bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapakah orang muslim yang paling baik ?’Beliau menjawab, “Seseorang yang orang-orang muslim yang lain selamat dari gangguan lisan dan tangannya” (Diriwayatkan oleh Muslim dari Jabir hadits no. 65 dengan lafaz seperti yang diriwayatkan oleh Bukhari dari Abdullah bin Umar.)
 

Al-Hafizh (Ibnu Hajar Al-Asqalani) menjelaskan hadits tersebut. Beliau berkata, “Hadits ini bersifat umum bila dinisbatkan kepada lisan. Hal itu karena lisan memungkinkan berbicara tentang apa yang telah lalu, yang sedang terjadi sekarang dan juga yang akan terjadi saat mendatang. Berbeda dengan tangan. Pengaruh tangan tidak seluas pengaruh lisan. Walaupun begitu, tangan bisa juga mempunyai pengaruh yang luas sebagaimana lisan, yaitu melalui tulisan. Dan pengaruh tulisan juga tidak kalah hebatnya dengan pengaruh tulisan”.

Oleh karena itu, dalam sebuah sya’ir disebutkan :

Aku menulis dan aku yakin pada saat aku menulisnya
Tanganku kan lenyap, namun tulisan tangannku kan abadi

Bila tanganku menulis kebaikan, kan diganjar setimpal
Jika tanganku menulis kejelekan, tinggal menunggu balasan.

5.  Adu domba
Yahya bin abu katsir berkata :” Orang yang mengadu domba bisa membuat kerusakan dalam dalam jangka waktu satu jam, sementara tukang sihir belum tentu bisa membuat kerusakan dalam jangka waktu satu bulan”

     Barangsiapa yang ingin selamat dari hal-hal di atas maka satu-satunya jalan adalah diam. Sebagaimana sabda Rasulullah:
من صمت نجا
“Barangsiapa yang diam maka ia akan selamat”
Bahaya lisan ini sangatlah banyak, namun yang bisa kami sebutkan hanya beberapa poin saja. Dan mudah-mudahan beberapa poin ini bisa memberikan kita pelajaran yang bermanfaat.
    Banyak orang mengira bahwa yang perlu kita pelajari hanyalah berbicara, bagaimana retorikanya, kecepatan bicaranya, kefasehan bahasanya dll, dan menganggap bahwa sikap diam itu tidaklah terlalu penting dan tidak perlu untuk di pelajari. Namun itu tidaklah sohih, sifat diam tetap perlu dipelajari sebagaimana kita belajar berbicara.
 ulama salaf mengatakan, ”Bahwa mereka belajar diam sebagiamana kita belajar berbicara”
 Bagaimana aku belajar terdiam ?
a.  Do’a, berdo’a meminta kepada Allah semoga diberikan apa yang diinginkan.
b.  Muhawalah atau berusaha.
c.  Malu kepada Allah, karena orang yang malu kepada Allah akan melakukan ketaatan kepada Allah dikala sendiri ataupun berjama’ah, dan begitupun juga ketika ia ingin berbuat maksiat dengan lidahnya maka ia akan merasa malu dan tidak ia lakukan  karena merasa terawasi oleh Allah azza wajalla. Dan orang seperti ini hanya akan mengeluarkan perkataan-perkataan yang diridhoi oleh Allah.
d.  Menyendiri, menyendiri bukanlah hal yang membosankan melainkan ia adalah hal yang dianjurkan. Contoh misalnya ketika seorang merasa bahwa imannya berkurang, maka dianjurkan baginya untuk menyendiri untuk bermuhasabah.
Orang soleh pernah di tanya : “ Tidakkah engkau kesepian jikalau engkau sendirian. Ia menjawab : “ bagaimana mungkin aku merasakan kesepian sedangkan aku duduk bersama yang mengingatku”
Allah berfirman “ Ingatlah aku maka aku akan mengingatmu”
e.  Menjadikan sifat diam sebagai ciri khas dalam kehidupan, dengan itu semua kata-kata tidak terlontarkan kecuali telah kita pertimbangkan manfaat dan mudharatnya.
f.   Memperbanyak dzikir kepada Allah, karena mengingat Allah adalah obat dan mengingat manusia adalah penaykit. Sebagaimana yang dikatakan oleh Umar bin khattab,” bahwa mengingat manusia adalah penyakit dan mengingat Allah adalah obat” .
g.  Bergaul dengan orang yang mengefesienkan waktu-waktunya. Dengan itu insya Allah kita akan terbawa oleh sifat dengan siapa kita berteman ataupun bergaul.
Semoga kita selalu berada dalam naungan Allah subhanahu wata’ala, dan semoga kita selalu dihindarkan dari hal-hal yag tidak bermanfaat, karena salah satu tanda berpalingnya Allah dari hambanya dengan menyibukkannya dengan hal-hal yang tidak berguna.
Semoga bermanfaat

1 comment:

  1. bagi yang membaca artilel di blog ini tolong di komentari,,,supaya bisa kami perbaiki kedepannya

    ReplyDelete

Cinta Dari Langit Ke-7

                                         CINTA DARI LANGIT KE TUJUH          Cinta Allah selalu ada dimanapun  dan bagaimanapun keada...