KETIKA
AKU HARUS TERDIAM
ما يلفظ من قول
إلا لديه رقيب عتيد
(Qaf
: 18)
“Tidak
ada suatu ucapan pun yang diucapkan melainkan ada disampingnya malaikat
pengawas yang selalu hadir”
Ketika manusia diperuntukkan dengan dua permasalahan
antara diam dengan berbicara, maka saat itu manusia akan terbagi menjadi dua
bagian beserta pilihan-pilihan yang mereka kehendaki:
1. Orang yang paham akan urgensi waktu
Orang yang seperti ini ketika diperuntukkan
dengan permasalahan yang seperti ini maka ia akan memilih dua pilihan:
a. Diam dari keburukan
Seseorang pernah ditanya tentang sifatnya yang
selalu terdiam, maka beliau pun menjawab ” lidah itu seperti pedang, kalau aku
berbicara tanpa ada faedah didalamnya maka ia akan membunuhku”
Dan seorang ulama
juga pernah ditanya tentang sifat diamnya ia berkata “ aku telah menyesali
perkataanku berkali-kali namun aku belum pernah menyesal dengan sifat diamku.”
b. Mengatakan
kebaikan
Sabda
Rasulullah sallallahu alaihi wasallam:
“ Barangsiapa
yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia berkata baik atau
diam”
Hadits
ini mengabarkan kepada semua manusia bahwa mengungkapkan kebaikan lebih baik
daripada diam. Sedangkan diam lebih baik daripada mengungkapkan suatu
keburukan. Ali ad-Daqqaq mengatakan bahwa diam dari kebenaran bagaikan setan
yang bisu”
2. Orang yang lalai menjaga waktunya
Orang ini ketika berada dalam keadaan yang seperti
ini, maka ia akan lebih condong ke beberapa hal:
a. Ngomong semau gue
Orang yang tidak
mengetahui harga sesuatu maka ia tidak akan pernah berhati-hati ataupun menjaga
barang atau sesuatu tersebut, seperti halnya ketika seorang anak mendapatkan
hadiah dari orang tuanya,dan membeli sesuatu dengan hasil keringatnya sendiri,
maka anak itu akan lebih menjaga apa yang ia peroleh dari keringatnya sendiri.
Mengapa? Karena ia tahu betapa letihnya ia sehingga ia bisa memperoleh hal
tersebut, nah inilah yang dinamakan Qiimah (harga) sesuatu. Begitupun dengan
waktu, barangsiapa yang mengetahui urgensi waktu, maka ia tidak akan pernah
menyia-nyiakannya meskipun sedetik, ia akan mengisi waktu-waktunya dengan hal
yang bermanfaat.
b. Salah bergaul
Banyak bergaul
akan menimbulkan banyak berbicara dan banyak bicara akan menimbulkan banyak
perkataan kosong tak bermakna.
Umar bin khottob
pernah engatakan “Barangsiapa yang banyak bicaranya banyak pula salahnya,
dan barangsiapa yang banyak salahnya sedikit malunya, dan barangsiapa yang
sedikit malunya banyak dosanya, dan barangsiapa yang banyak dosanya maka api
neraka lebih pantas baginya”
c. Beramal sia-sia
Orang yang seperti
ini akan banyak melakukan hal-hal yang tidak berguna dalam kehidupannya, karena
mereka tidak mengetahui hakekat dari waktu itu.
Padahal
Rasulullah mengatakan :
من حسن الإسلام
المرء تركه ما لا يعنيه
“ Salah satu ciri
kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan
apa-apa yag tidak bermanfaat baginya”
Luqman Al-Hakim
pernah ditanya seseorang “apa yang bisa membuatmu mendapatkan hikmah itu, beliau mengatakan “Aku
tidak menanyakan sesuatu yang kuanggap cukup dan aku tidak mengatakan sesuatu
yang tidak perlu”.
Penyakit lisan ini tidak hanya menimpa orang-orang
awam tapi tidak sedikit juga dari kalangan penuntut ilmu syar’I yang terjangkit oleh
penyakit lidah ini, survey membuktikan bahwa sebagian penuntut ilmu syar’I
tidak bisa menjaga lisan-lisannya ketika mereka berkumpul satu sama lain, bercanda, tertawa terbahak-bahak, dan
membicarakan hal-hal yang tidak memberikan faedah kepada dirinya dan orang
lain. Perkataan yang terlontarkan kadang menyakiti hati para pendengar, padahal Allah mengatakan
dalam Al-Quran :
“Artinya : Dan orang-orang yang
menyakiti orang-orang mu’min dan mu’minat tanpa kesalahan yang mereka perbuat,
maka sesunguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata” [Al-Ahzab
: 58]
Begitupun
dengan perkataan seorang ulama yang
pernah ditanya tentang amalan yang paling afdhol, beliau berkata