Thursday, January 31, 2019

Cinta Dari Langit Ke-7

                          
              CINTA DARI LANGIT KE TUJUH

         Cinta Allah selalu ada dimanapun  dan bagaimanapun keadaan kita. Ujian yang menimpa, musibah yang melanda bukan pertanda kebencian Allah kepada hamba-Nya melainkan itu adalah jembatan menuju kenaikan derajat di sisi Allah. Semakin banyak cobaan yang kita hadapi, semakin banyak rintangan yang kita lalui maka semakin besar pula pahala yang akan kita raih. Sebagaimana kaidah fiqih mengatakan: 
“Pahala yang di raih sesuai kadar rintangan yang dihadapi.”
Kadang musibalah yang nampak namun cinta Allahlah yang termaktub di balik semua itu. 
Bukankah penyakit itu guna untuk menggugurkan dosa dosa kecil? 
ما من مصيبة تصيب المسلم إلا كفر الله بها عنه حتى الشوكة يشاكها
“Tidaklah musibah menimpa seorang muslim  melainkan Allah akan menghapuskan dosa dosanya dengan musibah itu, meskipun itu cuma duri yang melukainya.” (HR. Bukhari)

  Berarti penyakit yang selama ini kita hadapi adalah pertanda cinta dan kasih sayang Allah. Begitu pun juga masalah masalah yang kita lalui. Semua itu adalah ujian untuk mengetahui siapa siapa saja yang bisa bertahan dan bersabar dengan ujian Allah.
    Semua itu untuk mengetahui sejauh mana tawakkal dan perjuangan cinta kita kepada Allah. ada yang tinggal kelas karena tidak lulus dan ada pula yang semakin tinggi derajatnya karena berhasil melewati ujian. 
Dan cobaan dalam kehidupan manusia itu harus ada; karena memang dunia ini adalah ruang ujian dan akhirat kelak tempat menuai hasil dari ujian itu. 
“Maka sungguh kami akan menguji kalian dengan sedikit dari ketakutan, kelaparan, dan sedikit kekurangan harta, jiwa, dan juga kekurangan buah buahan.” (QS. Al-baqaroh: 155)
  Allah sangat gembira ketika melihat hamban-Nya taat berserah diri. Dan dengan itu, Allah sangat gembira ketika melihat hamban-Nya berdosa lalu ia kembali bertaubat kepada-Nya. 
“Bahkan Allah lebih gembira dari seorang hamba yang kehilangan semua barang bekalnya yang berada di atas kendaraanya, lalu tiba tiba kendaraan itu pergi membawa semua yang ada diatasnya, lalu meninggalkannya seorang diri di padang pasir.
 Entah apa yang bisa ia lakukan dengan diri yang tak berbekal apa apa. Lapar, haus akan selalu mengintainya setiap waktu, bahkan mungkin akan membawanya pada kematian.  Tiba tiba dalam keadaan lelah telah usai mencari kendaraannya tak kunjung ketemu. Akhirnya  kembali ke tempat semula untuk istirahat,berharap tak kan pernah lagi terbangun.
 Itulah yang ada dalam benaknya kala itu. Ketika terbangun tiba tiba semua apa yang ia cari kini telah kembali. Ia pun berdiri dengan penuh rasa haru dan gembira dan memegang tali kekangnya dan berkata, “Ya Allah   engkau adalah hambaku dan aku adalah tuhanmu. Ia salah mengucapkan karena sangat gembira.”(HR. Muslim)

  Entah bagimana perasaan kita ketika berada dalam posisi demikian. Padang pasir tak berpenghuni, tanpa bekal, dan cuma seorang diri. Rasa takut, sedih, dan sepi. Itulah mungkin yang selalu menghantui. 
     Entah bagaimana juga yang kita rasakan, ketika dalam keadaan seperti itu. Tiba tiba semua yang telah kita cari sejak lama tiba tiba muncul seketika ketka membuka mata saat terbaring di bawah naungan pohon. Rasa bahagia yang tak terduga ketika itu yang meliputi hati. 
Dan ternyata Allah lebih gembira dari orang tersebut ketika melihat hamba-Nya kembali bertaubat. 
Cinta Allah begitu besar, pintu taubatnya selalu terbuka
“Ia membentangkan tangannya di siang hari untuk menerima taubat pendosa di malam hari. Dan membentangkan  tangannya di malam hari untuk menerima taubat pendosa di siang hari”. (HR. Muslim)
Allah tak ingin manusia berlimpahan dosa, ia pun membuka pintu taubatnya kapan dan dimanapun hamban-Nya berada. Selama nyawa belum sampai ditenggorokan dan matahari belum terbit di sebelah barat. 
Selama seorang hamba datang kepada Allah tanpa menduakannya dalam ibadah maka kata Allah dalam hadits qudsi, “Satu kebaikan akan dibalas dengan 10 kebaikan semisalnya atau akan aku tambahi lagi. Dan adapun dosa akan dibalas dengan satu dosa saja. Jika engkau datang pada-Ku dengan dosa sepenuh bumi tanpa menyekutukan aku, maka akupun akan mendatangimu dengan ampunan sepenuh bumi.” (HR. Ahmad)
Sungguh itu adalah kesempurnaan cinta Allah. Cinta yang tidak ada bandingannya, maka pantaslah ketika Allah yang seharusnya menjadi nomor satu dalam jiwa setiap insan. Padahal, kerajaan Allah tidak akan berkurang dengan kemaksiatan semua hamba, dan juga tidak menambahnya sedikitpun. Tapi Allah hanya ingin hamba-Nya kembali bertaubat dan beramal soleh sehingga rahmat Allah bisa ia raih.
Dalam hadits Qudsi Allah berkata: 
“Wahai hambaku! Kalau seandainya orang orang terdahulu kalian  dan belakangan beserta manusia dan jin berada pada satu hati yang paling bertakwa, itu tidak menambah kekuasaanku sedikitpun. Wahai hambaku! Kalau seandainya orang orang terdahulu kalian dan orang orang terakhir kalian berada dalam satu hati yang paling buruk, itu tidak akan mengurangi kekuasaan-Ku sedikitpun. Wahai hamba-Ku! Seandainya orang orang terdahulu dan orang orang sekarang serta semua jin dan manusia berada di atas satu bukit untuk memohon kepada-Ku, kemudian masing masing aku penuhi setiap permintaan dari mereka, itu sama sekali tidak mengurangi kekuasaan yang ada disisi-Ku, melainkan seperti benang yang menyerap ketika dimasukkan ke dalam lautan.” (HR. Muslim)  
Ketika seorang guru ingin semua mahasiswanya lulus ujian, ia berupaya untuk mencari jalan untuk meluluskan semuanya. Mungkin dengan jalan menyemangati, atau memberikan kisi kisi soal, sehingga ujian mudah mereka kerjakan. 
Itulah cinta! 
Berusaha untuk membahagiakan siapa yang kita cintai, menaati, patuh dan perhatian dengan semua yang diinginkannya. 
Itu mungkin gambaran cinta kepada manusia. Adapun cinta kepada Allah maka akan lebih tinggi dari pada itu. Dengan mengikuti perintha-Nya dan juga menjauhi larangannya. Larangan dan perintah ini pun merupakan tanda cinta kepada hamba-Nya karena Allah tidak ingin mereka terjatuh ke dalam api neraka. 
Bukankah ketika orang tua memerintah dan melarang karena dilandasi dengan rasa cinta? Cinta Allah di atas dari pada itu. 

Cinta kepada Allah kata syaikh Kholid As-sabt: “Cinta Allah adalah condongnya hati kepada-Nya. Dan itulah yang menyebabkan kita mengutamakan Allah dibandingkan dengan cinta kepada diri sendiri. Dan juga memberikan  pengaruh dalam prioritas ketaatan kepada Allah dibandingkan taat kepada selainnya, hawa nafsu, syaithon, dan taat kepada makhluk.” (a’malul qulub) 
 Maka cinta kepada Allah adalah cinta teragung. Dialah cinta terbesar dalam hati seorang hamba. Dan tidak ada yang lebih sempurna dari cinta kepada-Nya. Tidak ada pula yang berhak untuk dicintai dari semua sisi kecuali Dia. Karena sesungguhnya persembahan cinta kepada makhluk tidaklah demikian melainkan karena cinta kepada Allah. Dan begitu pula denga cinta orang yang beriman itu semua bersumber dari cinta kepada Allah. Mereka cinta kepada Rasulullah sallallahu alaihi wasallam atas dasar cinta  kepada Allah. 
“Katakanlah Muhammad kepada mereka, jikalau kalian mencintai Allah maka ikutilah aku maka Allah pun akan mencintaimu dan juga mengampuni dosa dosamu...” (QS. Al-imron:31)
Bahkan Rasulullah menjadikan cinta kepada Allah merupakan kesempurnaan iman
“Siapa yang mencintai karena Allah dan membenci karena Allah, dan memberi karena Allah dan menahan karena Allah maka sungguh telah sempurna keimanannya.” (HR. Abu Dawud) 

BAGAIMANA MERAIH CINTA ALLAH?

  Mungkin kita sudah mulai gelisah dan bertanya-tanya tentang bagaimana kita meraih kecintaan sang pencipta? Apa yang mesti kita lakukan untuk menggapai hal tersebut? Rasulullah menyebutkan dalam satu haditsnya: 
“Sesungguhnya Allah berkata: Barangsiapa yang memusuhi waliku maka sungguh aku menyatakan perang kepadanya. Dan tidaklah hambaku mendekatkan diri kepadaku yang lebih aku cintai dari apa apa yang telah aku wajibkan. Dan hambaku terus mendekatkan diri kepadaku dengan Sunnah Sunnah (nawafil) sehingga aku mencintainya. Jikalau Aku sudah mencintainya, maka aku akan menjadikan pendengarannya tidak ia pakai kecuali pada kebaikan, begitupun dengan matanya, tangannya, dan juga kakinya. Dan jika ia meminta maka pasti akan AKu kabulkan. Dan kalau ia minta perlindungan maka pasti akan aku lindungi….” (HR. Bukhari)
Dalam hadits ini telah jelas bahwa jalan untuk mewujudkan kecintaan Allah kepada hamba-Nya ada 2: 
1. Mengerjakan yang diwajibkan oleh Allah
Cinta kepada Allah bukan sekedar ucapan, tapi ada amalan amalan yang mesti kita perlihatkan bahwa kita memang cinta dan ingin dicintai. 
Cinta butuh bukti dan bukan omomngan semata. Tidak terbayangkan ketika seorang istri mengaku cinta pada suaminya namun dibelakang ia bersuai dengan lelaki lain. Ini bukanlah cinta; karena cinta adalah mencintai apa yang dicintai siapa yang kita cintai.
Sebagaimana yang disebutkan salah seorang ulama, “Cinta adalah mencintai apa yang dicintai oleh orang yang engkau cintai. Dan tidak dinamakan cinta ketika engkau mencintai apa yang dibenci siapa yang engkau cintai.”
Banyak yang kita saksikan fenomena yang seperti ini di zaman dahulu ataupun sekarang. Mungkin kita teringat dengan ayat: 
“Dan katakanlah Muhammad bahwa jika engkau mencintai Allah maka ikutilah aku niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosamu. Dan Allah maha pengampun dan maha pengasih.” (QS. Al-imron: 31) 
Kata Hasan Basshri dan sebagian salaf ketika mengomentari ayat ini, “ Sekelompok kaum mengaku cinta kepada Allah, maka Allah pun mengujinya dengan ayat ini.”
Kelompok tersebut ingin meraih cinta Allah tanpa harus mencintai Rasulullah. Maka Allah pun menurunkan Ayat ini sebagai ujian cinta mereka, bahwa kalau memang mereka cinta kepada Allah maka ikutilah utusannya yakni Rasulullah; karena Allah dan Rasulnya merupaka dua ketaatan yang tidak bisa dipisahkan. Dan ulama menamkan ayat ini dengan ayat ujian (imthan).  
Di zaman kita juga tidak kalah banyaknya yang mengaku demikian. Mengaku cinta tapi tidak ingin taat pada perintah Allah. Sholat dilalaikan, maksiat di lakukan, dan tinggallah cinta itu sekedar nama dan pengakuan. 
“jika engkau mengharapkan cinta Allah maka ikutilah yang Dia inginkan maka Allah akan memberikan di atas apa yang engkau inginkan”
2. Mengerjakan Sunnah Sunnah Rasulullah
Termasuk kecintaan Allah adalah menjadikan sesuatu sebagai pelengkap pahala kewajiban ketika ada yang kurang dalam kewajiban itu. Dia adalah nawafil.
“Dan tidaklah hamba-Ku terus mendekatkan diri kepadaku dengan Sunnah Sunnah sampai aku mencintainya….”

Inilah yang menjadi penyebab kedua untuk meraih cinta Allah. Bagaimana tidak, Sunnah Sunnah tersebut adalah perbuatan manusia terbaik yang pernah ada. Dan ialah pula yang diperintahkan menyampaikan pesan atau risalah di muka bumi untuk kemaslahatan ummat manusia. Maka dari itu kecintaan Allah kepada manusia bisa kita lihat dari banyaknya seseorang mengerjakan kebaikan dari Sunnah Sunnah Rasulullah ,tentunya setelah mengerjakam kewajiban. Karena pelengkap tidaklah diterima ketika tidak ada yang akan dilengkapi. 

Point Point lainnya akan nyusul insya Allah 


Ahmad Nasing 


Monday, January 21, 2019

SEUNTAI KALUNG CINTA


                                           ABU BAKAR MUHAMMAD BIN ABDUL BAQI'
Al-Qadhi Abu Bakar Muhammad bin Abdul Baqi’ bin Muhammad al-Bazar berkata, “Ketika itu aku tinggal di samping kota Makkah- sebuah kota yang semoga selalu dalam penjagaan Allah subhanahu wata’ala-. Suatu hari aku sangat lapar, sementara aku tidak mendapatkan makanan yang dapat mengganjal rasa laparku.
Tanpa aku duga aku menemukan sebuah bungkusan berbalut kain sutra diikat kaos kaki dari kain sutra pula. Maka tanpa pikir panjang bungkusan itu aku pungut lalu aku bawa ke rumah dan kubuka. Ternyata berisi seuntai kalung mutiara yang seumur hidup aku belum pernah melihatnya.
Setelah itu, aku keluar rumah. Aku mendengar seorang kakek sedang mencari sebuah bungkusan yang hilang. Dia menjajikan hadiah sebesar 500 dinar. Kakek itu berkata, ‘Barangsiapa menemukan bungkusan berisi kalung mutiara, maka uang 500 dinar ini akan aku berikan sebagai imbalan kepada penemunya.’



Aku berkata pada diriku sendiri, ‘Aku sangat butuh, aku sangat lapar, aku bisa mengambil kalung ini dan memanfaatkannya.’ Tapi aku akan mengembalikannya.
Aku berkata pada kakek itu, ‘Marilah kita ke rumah.’ Akupun membawanya ke rumahku. Setibanya di rumah, sang kakek menyebutkan ciri-ciri bungkusan yang hilang, diikat kaos kaki, jenis mutiara, jumlah dan benang yang digunakan untuk mengikat mutiara tersebut.
Kemudian aku serahkan bungkusan tadi kepada kakek tersebut. Diapun memberikan kepadaku 500 dinar sebagai imbalan. Namun aku menolak, aku berkata, ‘Sudah menjadi kewajibanku untuk mengembalikan temuan ini kepada pemiliknya dengan tanpa mengambil upah.’
Sang kakek berkata, ‘Kamu harus menerima uang ini.’ Dia terus menerus memaksaku untuk mengambil upah tersebut. Aku tidak mau menerimanya lalu dia pergi meninggalkan aku.
Adapun cerita mengenai diriku selanjutnya bahwasanya aku lalu meninggalkan Makkah dengan menumpang sebuah perahu. Tanpa aku duga perahu tersebut oleng. Orang-orang pun bercerai-berai berikut seluruh hartanya. Namun aku selamat dari musibah ini berpegangan salah satu papan perahu tersebut.
Beberapa hari aku berada di tengah lautan tanpa arah. Tiba-tiba aku terdampar di sebuah pulau yang berpenduduk. Aku menuju masjid untuk membaca al-Qur’an. Di kampung itu tidak ada seorangpun yang bisa membaca al-Qur’an. Kemudian mereka mendatangiku untuk meminta mengajari mereka membaca al-Qur’an. Dari taklimku ini aku bisa mengumpulkan sejumlah uang.
Suatu hari, aku menemukan beberapa lembar al-Qur’an di dalam masjid. Lembaran itu aku pungut. Orang-orangpun bertanya, ‘Apakah kamu bisa menulis?’ Aku jawab, ‘Ya’. Kemudian mereka memintaku untuk mengajari tulis menulis termasuk pada anak-anak dan remaja mereka.
Sejak itu aku mengajari mereka, akupun bisa mengumpulkan sejumlah uang. Suatu hari masyarakat kampung ini berkata kepadaku, ‘Kami mempunyai seorang gadis yatim sangat kaya, bagaimana jika kamu menyuntingnya?’ Aku menolak tawaran mereka. Mereka tetap memaksaku untuk menikahi gadis tersebut. Akhirnya aku terima tawaran mereka.
Setelah diadakan walimah dan isteriku ada di hadapanku, aku mendapati kalung yang dulu pernah kulihat, melingkar di lehernya. Mataku tak berkedip melihat kalung tersebut.
Orang-orang yang melihatku mengajukan protes, ‘Wahai ustadz, engkau telah menghancurkan hati gadis yatim ini, sebab engkau hanya menatap kalungnya bukan wajahnya!.’
Lalu aku ceritakan kisah kalung tersebut, orang-orang pun meneriakkan tahlil dan takbir hingga terdengar oleh seluruh penduduk pulau tersebut.
Aku menanyakan kepada mereka, ‘Ada apa?’
Mereka menjawab, ‘Kakek yang mengambil kalung darimu itu adalah ayah gadis ini. Kala itu kakek tersebut berkata, ‘Seumur hidupku, aku tidak pernah bertemu dengan seorang pemuda muslim yang baik seperti dia!’ Sang kakek hanya mampu memanjatkan do’a, ‘Ya Allah, pertemukanlah aku dengan pemuda itu agar aku dapat menikahkannya dengan anak gadisku.’ Sekarang do’a itu telah dikabulkan Allah.
Selanjutnya, aku tinggal bersama isteriku beberapa tahun, aku dikaruniai dua anak laki-laki. Kemudian isteriku meninggal dunia dia mewariskan kalung tersebut untukku dan untuk kedua anakku. Tanpa aku duga, dua anak laki-lakiku pun meninggal dunia. Maka tinggalah aku sebatang kara dan menjadi pemilik kalung isteriku. Kemudian kalung tersebut aku jual dengan harga 100 ribu dinar. Hartaku yang bisa kalian lihat sekarang ini adalah sisa-sisa harta itu.”
(Dzail Thabaqatul Hanafiah, 1-196)
Dari buku “99 Kisah Orang Shalih” karya Muhammad bin Hamid Abdul Wahab. Penerbit Darul Haq, Jakarta. Cetakan VII, Dzulqa’dah 1432 H / Oktober 2011 M

Cinta Dari Langit Ke-7

                                         CINTA DARI LANGIT KE TUJUH          Cinta Allah selalu ada dimanapun  dan bagaimanapun keada...