CINTA DARI LANGIT KE TUJUH
Cinta Allah selalu ada dimanapun dan bagaimanapun keadaan kita. Ujian yang menimpa, musibah yang melanda bukan pertanda kebencian Allah kepada hamba-Nya melainkan itu adalah jembatan menuju kenaikan derajat di sisi Allah. Semakin banyak cobaan yang kita hadapi, semakin banyak rintangan yang kita lalui maka semakin besar pula pahala yang akan kita raih. Sebagaimana kaidah fiqih mengatakan:
“Pahala yang di raih sesuai kadar rintangan yang dihadapi.”
Kadang musibalah yang nampak namun cinta Allahlah yang termaktub di balik semua itu.
Bukankah penyakit itu guna untuk menggugurkan dosa dosa kecil?
ما من مصيبة تصيب المسلم إلا كفر الله بها عنه حتى الشوكة يشاكها
“Tidaklah musibah menimpa seorang muslim melainkan Allah akan menghapuskan dosa dosanya dengan musibah itu, meskipun itu cuma duri yang melukainya.” (HR. Bukhari)
Berarti penyakit yang selama ini kita hadapi adalah pertanda cinta dan kasih sayang Allah. Begitu pun juga masalah masalah yang kita lalui. Semua itu adalah ujian untuk mengetahui siapa siapa saja yang bisa bertahan dan bersabar dengan ujian Allah.
Semua itu untuk mengetahui sejauh mana tawakkal dan perjuangan cinta kita kepada Allah. ada yang tinggal kelas karena tidak lulus dan ada pula yang semakin tinggi derajatnya karena berhasil melewati ujian.
Dan cobaan dalam kehidupan manusia itu harus ada; karena memang dunia ini adalah ruang ujian dan akhirat kelak tempat menuai hasil dari ujian itu.
“Maka sungguh kami akan menguji kalian dengan sedikit dari ketakutan, kelaparan, dan sedikit kekurangan harta, jiwa, dan juga kekurangan buah buahan.” (QS. Al-baqaroh: 155)
Allah sangat gembira ketika melihat hamban-Nya taat berserah diri. Dan dengan itu, Allah sangat gembira ketika melihat hamban-Nya berdosa lalu ia kembali bertaubat kepada-Nya.
“Bahkan Allah lebih gembira dari seorang hamba yang kehilangan semua barang bekalnya yang berada di atas kendaraanya, lalu tiba tiba kendaraan itu pergi membawa semua yang ada diatasnya, lalu meninggalkannya seorang diri di padang pasir.
Entah apa yang bisa ia lakukan dengan diri yang tak berbekal apa apa. Lapar, haus akan selalu mengintainya setiap waktu, bahkan mungkin akan membawanya pada kematian. Tiba tiba dalam keadaan lelah telah usai mencari kendaraannya tak kunjung ketemu. Akhirnya kembali ke tempat semula untuk istirahat,berharap tak kan pernah lagi terbangun.
Itulah yang ada dalam benaknya kala itu. Ketika terbangun tiba tiba semua apa yang ia cari kini telah kembali. Ia pun berdiri dengan penuh rasa haru dan gembira dan memegang tali kekangnya dan berkata, “Ya Allah engkau adalah hambaku dan aku adalah tuhanmu. Ia salah mengucapkan karena sangat gembira.”(HR. Muslim)
Entah bagimana perasaan kita ketika berada dalam posisi demikian. Padang pasir tak berpenghuni, tanpa bekal, dan cuma seorang diri. Rasa takut, sedih, dan sepi. Itulah mungkin yang selalu menghantui.
Entah bagaimana juga yang kita rasakan, ketika dalam keadaan seperti itu. Tiba tiba semua yang telah kita cari sejak lama tiba tiba muncul seketika ketka membuka mata saat terbaring di bawah naungan pohon. Rasa bahagia yang tak terduga ketika itu yang meliputi hati.
Dan ternyata Allah lebih gembira dari orang tersebut ketika melihat hamba-Nya kembali bertaubat.
Cinta Allah begitu besar, pintu taubatnya selalu terbuka
“Ia membentangkan tangannya di siang hari untuk menerima taubat pendosa di malam hari. Dan membentangkan tangannya di malam hari untuk menerima taubat pendosa di siang hari”. (HR. Muslim)
Allah tak ingin manusia berlimpahan dosa, ia pun membuka pintu taubatnya kapan dan dimanapun hamban-Nya berada. Selama nyawa belum sampai ditenggorokan dan matahari belum terbit di sebelah barat.
Selama seorang hamba datang kepada Allah tanpa menduakannya dalam ibadah maka kata Allah dalam hadits qudsi, “Satu kebaikan akan dibalas dengan 10 kebaikan semisalnya atau akan aku tambahi lagi. Dan adapun dosa akan dibalas dengan satu dosa saja. Jika engkau datang pada-Ku dengan dosa sepenuh bumi tanpa menyekutukan aku, maka akupun akan mendatangimu dengan ampunan sepenuh bumi.” (HR. Ahmad)
Sungguh itu adalah kesempurnaan cinta Allah. Cinta yang tidak ada bandingannya, maka pantaslah ketika Allah yang seharusnya menjadi nomor satu dalam jiwa setiap insan. Padahal, kerajaan Allah tidak akan berkurang dengan kemaksiatan semua hamba, dan juga tidak menambahnya sedikitpun. Tapi Allah hanya ingin hamba-Nya kembali bertaubat dan beramal soleh sehingga rahmat Allah bisa ia raih.
Dalam hadits Qudsi Allah berkata:
“Wahai hambaku! Kalau seandainya orang orang terdahulu kalian dan belakangan beserta manusia dan jin berada pada satu hati yang paling bertakwa, itu tidak menambah kekuasaanku sedikitpun. Wahai hambaku! Kalau seandainya orang orang terdahulu kalian dan orang orang terakhir kalian berada dalam satu hati yang paling buruk, itu tidak akan mengurangi kekuasaan-Ku sedikitpun. Wahai hamba-Ku! Seandainya orang orang terdahulu dan orang orang sekarang serta semua jin dan manusia berada di atas satu bukit untuk memohon kepada-Ku, kemudian masing masing aku penuhi setiap permintaan dari mereka, itu sama sekali tidak mengurangi kekuasaan yang ada disisi-Ku, melainkan seperti benang yang menyerap ketika dimasukkan ke dalam lautan.” (HR. Muslim)
Ketika seorang guru ingin semua mahasiswanya lulus ujian, ia berupaya untuk mencari jalan untuk meluluskan semuanya. Mungkin dengan jalan menyemangati, atau memberikan kisi kisi soal, sehingga ujian mudah mereka kerjakan.
Itulah cinta!
Berusaha untuk membahagiakan siapa yang kita cintai, menaati, patuh dan perhatian dengan semua yang diinginkannya.
Itu mungkin gambaran cinta kepada manusia. Adapun cinta kepada Allah maka akan lebih tinggi dari pada itu. Dengan mengikuti perintha-Nya dan juga menjauhi larangannya. Larangan dan perintah ini pun merupakan tanda cinta kepada hamba-Nya karena Allah tidak ingin mereka terjatuh ke dalam api neraka.
Bukankah ketika orang tua memerintah dan melarang karena dilandasi dengan rasa cinta? Cinta Allah di atas dari pada itu.
Cinta kepada Allah kata syaikh Kholid As-sabt: “Cinta Allah adalah condongnya hati kepada-Nya. Dan itulah yang menyebabkan kita mengutamakan Allah dibandingkan dengan cinta kepada diri sendiri. Dan juga memberikan pengaruh dalam prioritas ketaatan kepada Allah dibandingkan taat kepada selainnya, hawa nafsu, syaithon, dan taat kepada makhluk.” (a’malul qulub)
Maka cinta kepada Allah adalah cinta teragung. Dialah cinta terbesar dalam hati seorang hamba. Dan tidak ada yang lebih sempurna dari cinta kepada-Nya. Tidak ada pula yang berhak untuk dicintai dari semua sisi kecuali Dia. Karena sesungguhnya persembahan cinta kepada makhluk tidaklah demikian melainkan karena cinta kepada Allah. Dan begitu pula denga cinta orang yang beriman itu semua bersumber dari cinta kepada Allah. Mereka cinta kepada Rasulullah sallallahu alaihi wasallam atas dasar cinta kepada Allah.
“Katakanlah Muhammad kepada mereka, jikalau kalian mencintai Allah maka ikutilah aku maka Allah pun akan mencintaimu dan juga mengampuni dosa dosamu...” (QS. Al-imron:31)
Bahkan Rasulullah menjadikan cinta kepada Allah merupakan kesempurnaan iman
“Siapa yang mencintai karena Allah dan membenci karena Allah, dan memberi karena Allah dan menahan karena Allah maka sungguh telah sempurna keimanannya.” (HR. Abu Dawud)
BAGAIMANA MERAIH CINTA ALLAH?
Mungkin kita sudah mulai gelisah dan bertanya-tanya tentang bagaimana kita meraih kecintaan sang pencipta? Apa yang mesti kita lakukan untuk menggapai hal tersebut? Rasulullah menyebutkan dalam satu haditsnya:
“Sesungguhnya Allah berkata: Barangsiapa yang memusuhi waliku maka sungguh aku menyatakan perang kepadanya. Dan tidaklah hambaku mendekatkan diri kepadaku yang lebih aku cintai dari apa apa yang telah aku wajibkan. Dan hambaku terus mendekatkan diri kepadaku dengan Sunnah Sunnah (nawafil) sehingga aku mencintainya. Jikalau Aku sudah mencintainya, maka aku akan menjadikan pendengarannya tidak ia pakai kecuali pada kebaikan, begitupun dengan matanya, tangannya, dan juga kakinya. Dan jika ia meminta maka pasti akan AKu kabulkan. Dan kalau ia minta perlindungan maka pasti akan aku lindungi….” (HR. Bukhari)
Dalam hadits ini telah jelas bahwa jalan untuk mewujudkan kecintaan Allah kepada hamba-Nya ada 2:
1. Mengerjakan yang diwajibkan oleh Allah
Cinta kepada Allah bukan sekedar ucapan, tapi ada amalan amalan yang mesti kita perlihatkan bahwa kita memang cinta dan ingin dicintai.
Cinta butuh bukti dan bukan omomngan semata. Tidak terbayangkan ketika seorang istri mengaku cinta pada suaminya namun dibelakang ia bersuai dengan lelaki lain. Ini bukanlah cinta; karena cinta adalah mencintai apa yang dicintai siapa yang kita cintai.
Sebagaimana yang disebutkan salah seorang ulama, “Cinta adalah mencintai apa yang dicintai oleh orang yang engkau cintai. Dan tidak dinamakan cinta ketika engkau mencintai apa yang dibenci siapa yang engkau cintai.”
Banyak yang kita saksikan fenomena yang seperti ini di zaman dahulu ataupun sekarang. Mungkin kita teringat dengan ayat:
“Dan katakanlah Muhammad bahwa jika engkau mencintai Allah maka ikutilah aku niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosamu. Dan Allah maha pengampun dan maha pengasih.” (QS. Al-imron: 31)
Kata Hasan Basshri dan sebagian salaf ketika mengomentari ayat ini, “ Sekelompok kaum mengaku cinta kepada Allah, maka Allah pun mengujinya dengan ayat ini.”
Kelompok tersebut ingin meraih cinta Allah tanpa harus mencintai Rasulullah. Maka Allah pun menurunkan Ayat ini sebagai ujian cinta mereka, bahwa kalau memang mereka cinta kepada Allah maka ikutilah utusannya yakni Rasulullah; karena Allah dan Rasulnya merupaka dua ketaatan yang tidak bisa dipisahkan. Dan ulama menamkan ayat ini dengan ayat ujian (imthan).
Di zaman kita juga tidak kalah banyaknya yang mengaku demikian. Mengaku cinta tapi tidak ingin taat pada perintah Allah. Sholat dilalaikan, maksiat di lakukan, dan tinggallah cinta itu sekedar nama dan pengakuan.
“jika engkau mengharapkan cinta Allah maka ikutilah yang Dia inginkan maka Allah akan memberikan di atas apa yang engkau inginkan”
2. Mengerjakan Sunnah Sunnah Rasulullah
Termasuk kecintaan Allah adalah menjadikan sesuatu sebagai pelengkap pahala kewajiban ketika ada yang kurang dalam kewajiban itu. Dia adalah nawafil.
“Dan tidaklah hamba-Ku terus mendekatkan diri kepadaku dengan Sunnah Sunnah sampai aku mencintainya….”
Inilah yang menjadi penyebab kedua untuk meraih cinta Allah. Bagaimana tidak, Sunnah Sunnah tersebut adalah perbuatan manusia terbaik yang pernah ada. Dan ialah pula yang diperintahkan menyampaikan pesan atau risalah di muka bumi untuk kemaslahatan ummat manusia. Maka dari itu kecintaan Allah kepada manusia bisa kita lihat dari banyaknya seseorang mengerjakan kebaikan dari Sunnah Sunnah Rasulullah ,tentunya setelah mengerjakam kewajiban. Karena pelengkap tidaklah diterima ketika tidak ada yang akan dilengkapi.
Point Point lainnya akan nyusul insya Allah
Ahmad Nasing
