Saturday, March 22, 2014

KISAH SUFYAN BIN U’YAINAH


BIOGRAFI SUFYAN BIN U’YAINAH



Nama, Kelahiran dan Sifat-sifatnya
Namanya: Abu Muhammad Sufyan bin ‘Uyainah bin Abi Imran Maimun al-Hilali al-Kufi, seorang budak Muhammad bin Muzahim saudara kandung ad-Dhahak bin Muzahim. (Tahdziibul Kamaal 11/177-178)
Kelahirannya: Muhammad bin ‘Umar berkata,”Sufyan bin ‘Uyainah megabarkan kepadaku bahwasanya ia lahir pada tahun 107 Hijriyah.”
Ibnu Sa’ad berkata,”Sufyan bin ‘Uyainah berasal dari Kufah. Dia pembantu Khalid bin ‘Abdillah al-Qusairi. Ketika Khalid bin ‘Abdillah diturunkan dari jabatannya di Irak dan diganti oleh Yusuf bin ‘Umar ats-Tsaqafi, maka Yusuf mencari (memburu) para pembantu Khalid. Akibatnya, para pembantu Khalid termasuk Sufyan bin ‘Uyainah melarikan diri hingga bertemu ‘Uyainah bin Abi ‘Imran di Makkah. Selanjutnya, Sufyan bin ‘Uyainah menetap di sana.”(Thabaqat Ibnu Sa’ad 4/497)
Sifat fisiknya: Sufyan bin ‘Uyainah sebagaimana disampaikan al-Mizzi adalah seorang yang bermata juling.
Sanjungan Para Ulama Terhadapnya
Abu Nu’aim rahimahullah berkata:”Di antara imam yang amin (dapat dipercaya), berakal cerdas, mampu ber-istibath hukum (mengambil hukum dari dalil) dan mengorelasikan hukum-hukum tersebut adalah Abu Muhammad Sufyan bin ‘Uyainah. Dia seorang cendekiawan intelektual, seorang kritikus yang zuhud dan ahli ibadah. Keilmuan dan kezuhudannya sudah mashyur di kalangan Ulama.”(Hilyatul Auliya’ 7/270)
Adz-Dzahabi rahimahullah menambahkan:”Sufyan bin ‘Uyainah mulai menghafal dan mencari hadits sejak usianya masih kecil. Karena dia telah banyak menimba ilmu dari para Ulama besar terkemuka, maka hal tersebut membentuk sosoknya sebagai insan yang mutqin (profesional); kaya akan ilmu dan pengetahuan; mempunyai naluri intelektual sangat baik dan mengahasilkan banyak karya.
Usianya yang panjang membuat dirinya sebagai tempat rujukan para Ahli hadits dalam menimba ilmu dan mendapatkan sanad ‘Ali. Para Ahli hadits berdatangan dari berbagai negeri menuju Sufyan bin ‘Uyainah, sehingga tanpa disengaja, di antara mereka saling bertemu antara cucu dengan kakeknya (karena umur Sufyan bin ‘Uyainah yang panjang).” (Siyar A’laamin Nubala’)
Ibnu Mahdi rahimahullah berkata:”Ibnu ‘Uyainah memiliki sebagaian pengetahuan tentang al-Qur’an dan tafsir hadits yang tidak dimiliki oleh Sufyan ats-Tsauri rahimahullah.”
Yahya bin Ma’in rahimahullah berkata:”Dia adalah orang yang paling tsabit dalam meriwayatkan hadits dari ‘Amr bin Dinar rahimahullah.”
Imam Syafi’i rahimahullah berkata:”Kalau tidak ada Imam Malik dan Sufyan bin ‘Uyainah, niscya hilanglah ilmu yang ada di daerah Hijaz (Mekah, Madinah dan sekitarnya).”
Abu ‘Isa at-Tirmidzi rahimahullah berkata:”Aku mendengar Muhammad –maksudnya Imam al-Bukhari- berkata:’Ibnu ‘Uyainah lebih kuat hafalannya dibandingkan Hammad bin Zaid.’”
’Abdullah bin Wahb rahimahullah berkata:”Aku tidak mengetahui ada seorang yang lebih mengetahui tafsir al-Qur’an dibandingkan dengan Ibnu ‘Uyainah.” dan beliau juga berkata:”Imam Ahmad bin Hanbal lebih mengetahui tentang sunnah (hadits) Nabi dibandingkan Sufyan (Ibnu ‘Uyainah).”
Waki’ rahimahullah berkata:”Kami menulis hadits dari Ibnu ‘Uyainah pada zaman al-A’masy masih hidup.”
’Ali bin al-Madini rahimahullah berkata:”Tidak ada seorang pun Shahabat az-Zuhri yang lebih sempurna dibandingkan Sufyan bin ‘Uyainah.”
Ahmad bin ‘Abdillah al-‘Ajali rahimahullah berkata:”Ibnu ‘Uyainah adalah seorang yang tsabit (kokoh/kuat hafalanya) dalam hadits; dia menghafal hadits sekitar tujuh ribu hadits, sedangkan dia tidak memiliki kitab (buku).”
Bahz bin Asad rahimahullah berkata:”Aku tidak pernah melihat seseorang sepadan dengan Sufyan bin ‘Uyainah.” Lalu ditanyakan kepadanya:”Apakah Syu’bah juga tidak sepadan dengannya?” Dia menjawab:”Tidak juga Syu’bah.”
Ilmunya yang Luas
Harmalah bin Yahya rahimahullah berkata:”Aku telah mendengar Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata:’Aku belum pernah melihat orang yang memiliki piranti ilmu (ilmu alat untuk memahami al-Qur’an dan Hadits) sebagaimana yang dimiliki oleh Sufyan bin ‘Uyainah. Dan aku belum pernah melihat orang yang lebih berhati-hati dalam berfatwa (tidak mudah untuk memberikan fatwa) dibandingkan dengannya.”
Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata:”Aku mendapati hadits ahkam (hadits-hadits tentang hukum) semuanya ada pada (dihafal) Ibnu ‘Uyainah rahimahullah kecuali hanya enam hadits saja, dan aku mendapatinya (hadits ahkam) semuanya ada pada Imam Malik rahimahullah kecuali hanya tiga puluh hadits saja.” (Tadzkiratul Kamal 11/190)
Imam adz-Dzahabi menambahkan perkataan di atas:”Maka ini menjelaskan kepada anda tentang luasnya ilmu Sufyan, karena dia menggabungkan hadits-hadits dari orang Irak dan Hijaz, dan dia bertemu dengan banyak ulama (perawi hadits) yang tidak ditemui oleh Imam Malik. Dan keduanya adalah sepadan dalam masalah profesionalisme, akan tetapi Imam Malik lebih agung dan lebih tinggi, karena dia memiliki (guru) Nafi’ dan Sa’id al-Maqbari rahimahumallah.” (Tadzkiratul Kamal)
’Abdurrahman bin Mahdi rahimahullah berkata:”Ibnu ‘Uyainah termasuk salah seorang yamg paling tahu tentang haditsnya penduduk Hijaz.”(Siyar A’lamin Nubala’)
Keteguhannya Mengikuti Sunnah
Imam adz-Dzahabi rahimahullah berkata:”Sufyan bin ‘Uyainah adalah ulama Ahli hadits yang mengikuti (mengamalkan) hadits tersebut.”
Muhammad bin Ishaq ash-Shaghani rahimahullah berkata:”Telah bercerita kepada kami Luwain, bahwasanya dia berkata:”Dikatakan kepada Ibnu ‘Uyainah:’Apakah ini hadits-hadits yang diriwayatkan tentang masalah ru’yah (hadits yang menyebutkan bahwa orang beriman akan melihat Allah pada hari Kiamat)?” Sufyan menjawab:”Benar, sesuai dengan apa yang kami dengar dari orang-orang yang kami percayai dan kami ridhoi.”
Ibrahim bin Sa’id al-Jauhari berkata:”Aku telah mendengar Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah berkata:”Iman adalah ucapan dan perbuatan, ia bisa bertambah dan berkurang.”
Imam ath-Thabrani rahimahullah berkata:”Telah mengabarkan kepada kami Bisyr bin Musa, telah mengabarkan kepada kami al-Humaidi, ia berkata:’Dikatakan Sufyan bin ‘Uyainah:’Sesungguhnya Bisyr al-Marisi berkata:’Sesungguhnya Allah tidak dilihat pada hari Kiamat.’ Maka Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah berkata:”Semoga Allah memerangi si kutu itu (maksudnya Bisyr), apakah dia tidak mendengar firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:

كَلَّا إِنَّهُمْ عَنْ رَبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَمَحْجُوبُونَ(15)
”Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka (orang kafir/musuh Allah) pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Rabb mereka.” (QS. Al-Muthaffifin: 15)
Jika Allah juga terhalangi dari pandangan para wali-wali-Nya (maksudnya wali-wali Allah tidak melihat Allah), maka di mana kelebihan wali-Nya dibandingkan musuh-Nya?” (Maksudnya kalau Allah tidak dilihat oleh para wali-wali-Nya yaitu orang-orang beriman, maka tidak ada beda antara wali Allah dengan musuh-Nya)
Kezuhudannya dan Pendapatnya seputar Zuhud
Al-Musayyib bin Wadhih rahimahullah berkata:’Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah ditanya tentang Zuhud, maka beliau menjawab:”Zuhud adalah terhadap apa yang dilarang oleh Allah, adapun untuk yang dihalalkan oleh Allah, maka Dia telah membolehkannya untukmu. Para Nabi menikah, menaiki kendaraan, dan makan. Akan tetapi Allah Subhanahu wa Ta'ala melarang sesuatu dan mereka pun meninggalkannya, dengan hal mereka menjadi orang yang zuhud.”
Dari Ahmad bin Ubadah, ia berkata:’Sufyan bin ‘Uyainah mengabarkan kepada kami dan berkata:”Zuhud di dunia adalah bersabar danbersiap-siap menerima datangnya kematian.”
Ahmad bin Abi al-Hawari berkata:’Aku bertanya kepada Sufyan bin ‘Uyainah:’Bagaimanakah orang yang dikategorikan zuhud di dunia itu?’ Dia menjawab:”Disebut zuhud apabila seseorang mendapatkan nikmat ia bersyukur dan ketika menerima musibah ia bersabar.”
Guru-gurunya
Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata:Ibnu ‘Uyainah meriwayatkan hadits dari Abdul Malik bin ‘mar, Abu Ishaq as-Sab’i, Ziyad bin Alaqah, Aswad bin Qais, Abban bin Taghlab, Ibrahim bin Musa, Muhammad bin ‘Uqbah, Ishaq bin ‘Abdillah bin abi Thalhah, Israil bin Musa, Ismail bin Abi Khalid, Ismail bin Umayyah, Ayyub bin Abu Tamimah as-Sakhtiyani, Yazid bin Abi Bardah, Bayan bin Bisyr, Jafar ash-Shadiq, Jami’ bin Abi Rasyid, Humaid ath-Thawil, Humaid bin Qais al-A’raj, Zakaria bin Abi Zaidah, Zaid bin Aslam, Salim Abi Nadhir, Abu Hazim bin Dinar, Sulaiman at-Taimi, Sulaiman al-Ahwal, Sama, Suhail, Syubaib bin Gharqadah, Shalih bin Kaisan, Shalih bin Shalih bin Hayy, Safwan bin Sulaim, Dhamrah bin Sa’id, ,Ashim al-Ahwal, ‘Ashim bin Bahladah bin Kulaib.
Juga tercatat sebagai guru-gurunya:’Abdullah bin Dinar, Abu Zinad, ‘Abdullah bin Thawus, ‘Abdullah bin Husain, Ibnu Abi Nujaih, dan masih banyak lagi yang lainnya.
Murid-muridnya
Dijelaskan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullahbahwa orang yang meriwayatkan hadits dari Sufyan bin ‘Uyainah antara lain: al-A’masy, Ibnu Juraij, Syu’bah, Sufyan ats-Tsauri, Mus’ar (di samping itu mereka semua juga termasuk guru Sufyan bin’uyainah), Abu Ishaq al-Fazari, Hammad bin Zaid, al-Hasan bin Hayy, Hammam, Abu al-Ahwash, Ibnul Mubarak, Qais bin ar-Rabi’, Abu Mu’awiyah, Waki’ al-Jarrah, Ma’mar bin Sulaiman, Yahya bin Zaidah (mereka ini hidup sezaman dengan Sufyan bin ‘Uyainah dan meninggal lebih dahulu)
Di anatara muridnya juga; Muhammd bin Idris (Imam asy-Syafi’i) ‘Abdullah bin Wahhab, Yahya al-Qaththan,Ibnu Mahdi,Abu Usamah, al-Faryabi, ath-Thayalisi, ‘Abdurrazaq, Abu Nu’aim, Ahmad bin Hanbal, Yahya bin Ma’in, Ali bin al-Madini, Ishaq bin Rahawaih, dan masih banyak lagi yang lainnya.
Beberapa Mutiara Perkataannya
Muhammad bin Maimun al-khayyath berkata:’ Aku telah mendengar Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah berkata:”Apabila waktu siangku adalah ketololan dan waktu malamku adalah kebodohan, maka apa gunanya ilmu yang aku telah kumpulkan selama ini.”
Ibrahim al-Jauhari berkata:’Aku pernah mendengar Ibnu ‘Uyainah berkata:”Orang yang berilmu yang memelihara ilmunya adalah yang mengamalkan ilmu tersebut.”
Abu Ma’mar berkata:’Aku telah mendengar Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah berkata:”Bukanlah disebut Ulama orang yang hanya mengetahui kebaikan dan keburukan, akan tetapi disebut Ulama apabila orang tersebut mengetahui sebuah kebaikan lalu mengamalkannya, dan mengetahui keburukan lalu menjauhinya.”
Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah berkata:”Bergaulah kalian dengan Ulama, sesungguhnya duduk bersama Ulama akan mendapatkan keuntungan, berteman dengan Ulama akan selamat, dan bersahabat dengan ulama merupakan kemuliaan.”
Abu Musa al-anshari berkata:’ Aku mendengar Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah berkata:”Janganlah kalian menjadi orang yang berkelakuan buruk, yaitu orang yang tidak mendatangi masjid untuk menunaikan shalat, kecuali setelah iqamat dikumandangkan. Akan tetapi, datanglah ke masjid untuk menunaikan shalat sebelum adzan dikumadangkan.”
Dari Ibrahim bin al-Asy’ats, ia berkata: Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah telah memberitahukan kepada kami dengan berkata:”Telah dikatakan bahwa manusia yang paling rugi di hari Kiamat adalah tiga kelompok manusia:
Pertama:Seorang laki-laki yang mempunyai budak, sedangkan besok di Hari Kiamat, amal kebaikan budak tersebut lebih banyak dari pada amalnya.
Kedua:Seseorang yang memiliki harta, namun tidak mau bersedekah sedikit pun sampai ia meninggal. Kemudian, harta tersebut diwariskan kepada orang lain dan harta itu kemudian disedekahkan.
Ketiga:Seorang Ulama yang ilmunya tidak bermanfaat baginya, akan tetapi dengan diajarkannya kepada orang lain,sedang orang lain itu dapat mengambil manfaat dari ilmu tersebut.”
Abu Ayyub Sulaiman bin Dawud, dari Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah dia berkata:”Apabila nasehat yang sedikit tidak bermanfaat bagi orang yang berakal, maka nasehat yang banyak tidak akan menambah sesuatu melainkan kejelekan.”
Wafatnya:
Dari Hasan bin Imran bin ‘Uyainah bin Abi Imran, keponakan Sufyan bin ‘Uyainah ia berkata:”Aku pergi haji bersama pamanku, Sufyan bin ‘Uyainah yaitu pada tahun 197 Hijriyah. Setelah kami menunaikan shalat dengan cara dijamak, dia lalu berbaring di atas tikarnya. Dalam keadaan terbaring itulah dia berkata:”Sungguh aku telah mendatangi tempat ini selama tujuh puluh tahun lamanya, setiap tahunnya aku memohon:”Ya Allah, janganlah Engkau jadikan hajiku kali ini sebagai kesempatan haji terakhirku. Dan sekarang sungguh aku malu sekali kepada Allah karena begitu banyaknya aku memohon kepada-Nya.”
Kemudian Ibnu ‘Uyainah kembali untuk pulang dan akhirnya dia meniggal pada tahun berikutnya, tepatnya pada hari sabtu, hari pertama bulan Rajab tahun 198 Hijriyah dan dimakamkan di Hajun.”
Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan rahmat kepada beliau dan menempatkan beliau di Surga-Nya yang membentang luas. Amiin
(Sumber:Diringkas dari kitab Min A’laamis Salaf edisi indonesia 60 bografi Ulama salaf, pustaka al-Kautsar dengan sedikit perubahan dari sumber-sumber lain berbahasa Arab).







KISAH SUFYAN AT-SAURI

Kisah Sufyan Ats-Tsauri dalam Menuntut Ilmu

Kisah Sufyan Ats-Tsauri dalam Menuntut Ilmu 4

Saturday, March 15, 2014

JANGAN KATAKAN CINTA


CINTA  ANAK MUDA

Kehidupan manusia di muka bumi ini tidak lepas dari yang namanya cinta, karena cinta itulah yang mewarnai hari-harinya. Maka dari itu seseorang ketika gelisah dan resah hatinya atau tidak merasakan warna dalam lembaran-lembaran kehidupannya ia akan berusaha mencari pewarna untuk mewarnai hari-harinya. Sebagian diantara mereka mencari cintanya dengan jalan yang salah, ia mencari cinta dari lawan jenisnya. Dan adapula yang mencari cinta dengan mendekatkan diri kepada

Wednesday, March 5, 2014

BERBUAT BAIK YUKK


BERBUAT BAIK KEPADA SEGALA SESUATU

http://www.alamsari.com/images/main-image001.jpg


عن أبي يعلى شداد بن أوس رضي الله عنه عن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : " إن الله كتب الإحسان
على كل شيء , فإذا قتلتم فأحسنوا القتلة , وإذا ذبحتم فأحسنوا الذبحة وليحد أحدكم شفرته وليرح ذبيحته " رواه مسلم
Dari Abu Ya'la, Syaddad bin Aus radhiyallahu 'anhu, dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam beliau telah bersabda : “ Sesungguhnya Allah mewajibkan berlaku baik  pada segala hal, maka jika kamu membunuh hendaklah membunuh dengan cara yang baik dan jika kamu menyembelih maka sembelihlah dengan cara yang baik dan hendaklah menajamkan pisau dan menyenangkan hewan yang disembelihnya”. (Muslim no. 195)
Sering kali timbul dalam benak kita tentang berbuat baik kepada segala sesuatu. Kadang kita mengatakan apakah kita harus berbuat baik kepada benda mati. Secara logika berbuat baik kepada benda mati tidak ada manfaatnya karena otomatis yang namanya benda mati tidak akan merasakan apa-apa. Adapaun berbuat baik kepada manusia atau kepada makhluk hidup secara umum itu wajar karena terbetik dalam hati bahwa  manusia itu memiliki perasaan.

Friday, February 28, 2014

NONTON TANPA PENUNTUN

KETIKA NONTON TANPA PENUNTUN
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj9MBak-5svBdKWStQRFiH811cX3aqqA5V5CaAAjcydU7SvY6THx5wphXhaQqmw6zqJJS86e9l6PyJhW0nWGcNNf_16_EmPxB83CAVnH1rSycjXMAgcqbEp7848rKgyg1XUjUGyOsr_Z6M/s1600/nonton+tv.jpg
     Salah satu media yang tidak asing lagi di mata masyarakat adalah televisi. Media yang paling berpengaruh dalam kehidupan masyarakat. Mereka mengamalkan apa yang ia dapatkan dalam tontonan tersebut, sehingga menjadi tuntunan.
Tontonan Yang Tidak Syar’i
   Hari ini, kita saksikan bersama seorang lelaki berbaju muslim jalan berduaan atau berboncengan dengan seorang wanita yang bukan mahramnya. Mereka ditarbiyah oleh tontonan berupa film, konser musik yang berlabel islam. Secara otomatis orang awam akan mengira dan mencontoh, itu boleh-boleh saja. Bahkan, tidak sedikit dari film-film yang berlabel Islam menghalalkan hubungan antara dua orang yang berlawanan jenis tanpa ikatan pernikahan.
Padahal, “Aku tidak berjabat tangan dengan wanita, sesungguhnya perkataanku terhadap seorang wanita sama dengan perkataanku terhadap seratus wanita.” (H.R. At-Tirmidzi, An-Nasa’i dan Ibnu Majah)
Kalau berjabat tangan saja tidak boleh, bagaimana lagi dengan .
    Fakta pada hari ini dalam masyarakat islam. Sebagian besar telah mengikuti gaya-gaya artis yang sering jadi tontonan dalam sinetron ataupun konser musik dan tayangan-tayangan yang lainnya. Mereka ingin sama dengan gaya dan tindak tanduk artis yang ia idolakan. Padahal Rasulullah berkata:
“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka ia bagian dari kaum tersebut.” (HR. Abu Dawud)
   Hadits ini jelas menerangkan bahwa barangsiapa yang mengikuti suatu kaum maka ia bagian dari mereka dan nanti ia akan dikumpulkan di hari kemudian bersama kaum yang ia cintai.
   Maka tidak pantaslah bagi seorang muslim mengikuti gaya-gaya mereka yang bathil dan dimurkai oleh Allah azza wajalla. Dan itu bukan bagian dari syari’at kita dan mereka juga bukan suri tauladan kita yang mesti kita ikuti.
“Sungguh telah ada pada diri Rasulullah suri tauladan yang baik” (QS. An-fal: 21).
Inilah suri tauladan kita yang patut kita ikuti yang telah dijamin oleh Allah kualitasnya dan dijamin masuk surga bagi yang mengikutinya. Adapun yang menyelisihi beliau seperti kebanyakan artis-artis maka itu berada di bawah keinginan Allah. Kalau  Allah mau, maka Allah akan mengampuninya dan kalau Allah mau maka Ia akan mengazabnya.
Akibat Negative Tontonan  
   Ketika kita berkunjung kerumah masyarakat-masyarakat yang ada disekeliling kita, kita akan menyaksikan tv dirumah-rumah mereka, kebanyakannya menyaksikan siaran-siaran yang tak berguan untuk diri dan keluarganya. Bahkan hasil tampilan dari sebagian siaran-siaran berhasil mempengaruhi orang tua untuk merubah penampilan anaknya supaya bisa menjadi seperti apa yang ia saksikan.
   Bukan cuma itu, para penggemar sinetron-sinetron telah banyak dari kalangan orang tua mengajari anaknya bernyanyi dan berjoget. Dan di antara mereka tidak malu bahkan bangga ketika anaknya ikut serta dalam permainan elctone atau orkez. Padahal ini adalah suatu kemaksiatan yang patut kita jauhi dan dijauhkan dari jangkaun anak-anak dan dari semua kalangan.
    Setelah membaca dampak negative dari media ini maka kadang kita bertanya, bagaimana cara mengatasinya?
Maka kami akan mencoba memaparkan beberapa solusinya sebagai berikut: 
1.   Ganti Siaran Anda
     Tidak bisa juga dipungkiri bahwa di sisi lain televise juga memberikan tarbiyah yang baik kepada para penonotonnya, karena tidak semua siaran-siaran televisi menampilkan kemaksiatan dan kebhatilan. Dan itulah media yang bagaikan pisau yang memiliki dua mata, ia bermanfaat ketika dipakai memotong sayur-sayuran dan berbahaya jika dipakai membunuh manusia yang tidak halal darahnya untuk dibunuh dan lain sebagainya. Begitulah pula dengan media ini, juga memiliki dua mata yang yang sama seperti pisau ketika digunakan untuk kebaikan maka ia akan membawa pemiliknya pada kebaikan dan begitupun sebaliknya.
   Siaran-siaran ini tidak berisikan  hal-hal yang berlawanan dengan syri’at islam sehingga bagus dikaji untuk semua kalangan, karena tujuannya adalah untuk memberikan  cahaya untuk ummat dan bangsa.   Siaran seperti inilah yang dapat menjadikan kita akan lebih paham akan agama. Maka dari itu bagi orang tua agar memperhatikan anaknya sedetail mungkin dan mengarahkan anaknya kepada hal-hal yang berguna.
2.Memahamkan Orang Tua
    Salah satu sebab kerusakan anak-anak hari ini adalah kurangnya bimbingan orang tua terhadap anaknya. Anak yang seharusya dididik dengan pemahaman agama malah dididik dengan cara yang tidak islami bahkan bertolak belakang dengan agama islam itu sendiri. Mereka menganggap bahwa hal yang terbaik untuk mendidik anak adalah dengan membuat mereka sukses seperti pemain-pemain film ataupun sinetron yang bebas bergerak bebas bercampur antara lawan jenis.
    Guru pertama seorang anak adalah orang tuanya sendiri sehingga apa yang diajarkannya sejak kecil itulah yang terbawa sampai dewasa. Anak tidak diberikan pemahaman tentang agama karena yang akan memberikan pemahaman juga tidak paham. Ia merasa itu tidak penting untuk diajarkan. Sehingga pada hari ini telah banyak anak-anak yang melawan orang tuanya setelah dewasa, mengapa? Karena ia tidak pernah mengenal islam yang sebenarnya. Inilah akibat didikan orang tua yang tak mengenal islam yang sebenarnya.
     Hal ini karena kurangnya perhatian dari orang tua, dari kecil ia sudah menyaksikan film-film yang katanya hanya untuk orang dewasa tapi orang dewasapun dan dari kalangan manapun tidak boleh menyaksikan tayangan tersebut. Dari tontonan inilah bermula tarbiyah anak-anak sehingga menjadi tuntunan sampai sekarang. Mereka menjadikan tontonan itu sebagai tuntunan sehingga apa-apa yang ia saksikan ia menjadikannya sebagai qudwatun hasanah (contoh yang baik) dengan mengikuti gaya-gaya yang ia saksikan.
   Maka salah satu solusinya adalah dengan menjauhkan anak-anak dari siaran-siaran yang tidak islami. Dan dengan ini juga diharapkan bagi orang tua untuk membekali anak-anaknya dengan ilmu syar’i karena itulah kunci dari segala kebaikan.
3.Orang Tua Adalah Tuntunan
    Orang tua adalah tuntunan bagi anak-anaknya, maka dari itu wajib bagi orang tua untuk mentarbiyah anaknya dengan tarbiyah yang benar, ia wajib menjadi tontonan atau cermin bagi anak-anaknya sehingga ia bisa menjadi tuntunan untuk mereka dari kecil hingga dewasa dan seterusnya. In sya Allah
   Dan guru yang paling banyak perannya dalam diri seorang anak adalah orang tua. Dengan itu pantaslah orang tua yang paling banyak memberikan pelajaran kepada anaknya. Karena itulah yang akan ia bawa sampai dewasa nantinya.
4.      Jaga Pergaulan
   Pergaulan seorang anak juga perlu dikontrol dan diperhatikan Karena pergaulan bisa merubah sikap seorang anak 99% , banyak telah kita saksikan seorang anak yang hidup dikalangan keluarga yang paham akan agama dan terdidik dari kecil, tapi setelah dewasa sikapnya berubah dan tidak lagi patuh kepada Allah. Ini karena pergaulannya disekolah dan ditempat-tempat lain yang sangat berpenagruh. Maka dari itu perlu diperhatikan semua gerak-geriknya, baik ketika menonton ia nonton apa, baik ketika bergaul ia bergaul dengan siapa, dan sekolah, sekolah dimana dan lain sebagianya.
   Semenjak kecil seorang anak memang harus dijauhkan dari tontonan-tontonan yang tidak syar’I karena anak-anak itu seperti pohon, ketika pohon masih kecil masih bisa di miringkan kiri dan kanan, tapi ketika sudah besar dan menjulang tinggi maka pohon itu tidak bisa lagi dimiringkan kiri dan kanan, bahkan pohon itu akan patah ketika dipaksakan. Begitupun dengan anak-anak ketika masih kecil masih bisa diarahkan kiri dan kanan, artinya ia masih nurut dan masih bisa diatur. Tapi ketika seorang anak dididik ketika dewasa maka ia akan seperti pohon yang sudah besar dan menjulang tinggi susah untuk diarahkan. Maka arahkanlah ia kejalan yang benar sebelum ia menjadi dewasa.
Mari mentarbiyah diri dan orang lain dengan benar dan menjadi tontonan sekaligus tuntunan keluarga dan masyarakat. Semoga bermanfaat
Abu uwais  


Cinta Dari Langit Ke-7

                                         CINTA DARI LANGIT KE TUJUH          Cinta Allah selalu ada dimanapun  dan bagaimanapun keada...