KETIKA NONTON TANPA PENUNTUN
Salah satu media yang tidak asing lagi di
mata masyarakat adalah televisi. Media yang paling berpengaruh dalam kehidupan
masyarakat. Mereka mengamalkan apa yang ia dapatkan dalam tontonan tersebut,
sehingga menjadi tuntunan.
Tontonan Yang
Tidak Syar’i
Hari ini, kita saksikan bersama seorang
lelaki berbaju muslim jalan berduaan atau berboncengan dengan seorang wanita
yang bukan mahramnya. Mereka ditarbiyah oleh tontonan berupa film,
konser musik yang berlabel islam. Secara otomatis orang awam akan mengira dan
mencontoh, itu boleh-boleh saja. Bahkan, tidak sedikit dari film-film yang
berlabel Islam menghalalkan hubungan antara dua orang yang berlawanan jenis
tanpa ikatan pernikahan.
Padahal, “Aku tidak berjabat tangan dengan wanita, sesungguhnya
perkataanku terhadap seorang wanita sama dengan perkataanku terhadap seratus
wanita.” (H.R. At-Tirmidzi, An-Nasa’i dan Ibnu Majah)
Kalau berjabat tangan saja tidak boleh, bagaimana lagi dengan .
Fakta pada hari ini dalam
masyarakat islam. Sebagian besar telah mengikuti gaya-gaya artis yang sering
jadi tontonan dalam sinetron ataupun konser musik dan tayangan-tayangan yang
lainnya. Mereka ingin sama dengan gaya dan tindak tanduk artis yang ia idolakan.
Padahal Rasulullah berkata:
“Barangsiapa
yang menyerupai suatu kaum maka ia bagian dari kaum tersebut.” (HR.
Abu Dawud)
Hadits ini jelas menerangkan bahwa barangsiapa
yang mengikuti suatu kaum maka ia bagian dari mereka dan nanti ia akan
dikumpulkan di hari kemudian bersama kaum yang ia cintai.
Maka tidak pantaslah bagi seorang muslim
mengikuti gaya-gaya mereka yang bathil dan dimurkai oleh Allah azza wajalla.
Dan itu bukan bagian dari syari’at kita dan mereka juga bukan suri tauladan
kita yang mesti kita ikuti.
“Sungguh
telah ada pada diri Rasulullah suri tauladan yang baik” (QS. An-fal:
21).
Inilah suri
tauladan kita yang patut kita ikuti yang telah dijamin oleh Allah kualitasnya
dan dijamin masuk surga bagi yang mengikutinya. Adapun yang menyelisihi beliau
seperti kebanyakan artis-artis maka itu berada di bawah keinginan Allah. Kalau Allah mau, maka Allah akan mengampuninya dan
kalau Allah mau maka Ia akan mengazabnya.
Akibat
Negative Tontonan
Ketika kita berkunjung kerumah masyarakat-masyarakat
yang ada disekeliling kita, kita akan menyaksikan tv dirumah-rumah mereka,
kebanyakannya menyaksikan siaran-siaran yang tak berguan untuk diri dan
keluarganya. Bahkan hasil tampilan dari sebagian siaran-siaran berhasil
mempengaruhi orang tua untuk merubah penampilan anaknya supaya bisa menjadi
seperti apa yang ia saksikan.
Bukan cuma itu, para penggemar
sinetron-sinetron telah banyak dari kalangan orang tua mengajari anaknya
bernyanyi dan berjoget. Dan di antara mereka tidak malu bahkan bangga ketika
anaknya ikut serta dalam permainan elctone atau orkez. Padahal ini adalah suatu
kemaksiatan yang patut kita jauhi dan dijauhkan dari jangkaun anak-anak dan
dari semua kalangan.
Setelah membaca dampak negative dari media
ini maka kadang kita bertanya, bagaimana cara mengatasinya?
Maka kami
akan mencoba memaparkan beberapa solusinya sebagai berikut:
1.
Ganti Siaran
Anda
Tidak
bisa juga dipungkiri bahwa di sisi lain televise juga memberikan tarbiyah yang
baik kepada para penonotonnya, karena tidak semua siaran-siaran televisi
menampilkan kemaksiatan dan kebhatilan. Dan itulah media yang bagaikan pisau
yang memiliki dua mata, ia bermanfaat ketika dipakai memotong sayur-sayuran dan
berbahaya jika dipakai membunuh manusia yang tidak halal darahnya untuk dibunuh
dan lain sebagainya. Begitulah pula dengan media ini, juga memiliki dua mata
yang yang sama seperti pisau ketika digunakan untuk kebaikan maka ia akan
membawa pemiliknya pada kebaikan dan begitupun sebaliknya.
Siaran-siaran ini tidak berisikan hal-hal yang berlawanan dengan syri’at islam
sehingga bagus dikaji untuk semua kalangan, karena tujuannya adalah untuk
memberikan cahaya untuk ummat dan
bangsa. Siaran seperti inilah yang
dapat menjadikan kita akan lebih paham akan agama. Maka dari itu bagi orang tua
agar memperhatikan anaknya sedetail mungkin dan mengarahkan anaknya kepada
hal-hal yang berguna.
2.Memahamkan
Orang Tua
Salah satu sebab kerusakan anak-anak hari ini
adalah kurangnya bimbingan orang tua terhadap anaknya. Anak yang seharusya
dididik dengan pemahaman agama malah dididik dengan cara yang tidak islami
bahkan bertolak belakang dengan agama islam itu sendiri. Mereka menganggap
bahwa hal yang terbaik untuk mendidik anak adalah dengan membuat mereka sukses
seperti pemain-pemain film ataupun sinetron yang bebas bergerak bebas bercampur
antara lawan jenis.
Guru pertama seorang anak adalah orang
tuanya sendiri sehingga apa yang diajarkannya sejak kecil itulah yang terbawa
sampai dewasa. Anak tidak diberikan pemahaman tentang agama karena yang akan
memberikan pemahaman juga tidak paham. Ia merasa itu tidak penting untuk
diajarkan. Sehingga pada hari ini telah banyak anak-anak yang melawan orang
tuanya setelah dewasa, mengapa? Karena ia tidak pernah mengenal islam yang
sebenarnya. Inilah akibat didikan orang tua yang tak mengenal islam yang
sebenarnya.
Hal ini karena kurangnya perhatian dari
orang tua, dari kecil ia sudah menyaksikan film-film yang katanya hanya untuk
orang dewasa tapi orang dewasapun dan dari kalangan manapun tidak boleh
menyaksikan tayangan tersebut. Dari tontonan inilah bermula tarbiyah anak-anak sehingga
menjadi tuntunan sampai sekarang. Mereka menjadikan tontonan itu sebagai
tuntunan sehingga apa-apa yang ia saksikan ia menjadikannya sebagai qudwatun
hasanah (contoh yang baik) dengan mengikuti gaya-gaya yang ia saksikan.
Maka salah satu solusinya adalah dengan
menjauhkan anak-anak dari siaran-siaran yang tidak islami. Dan dengan ini juga
diharapkan bagi orang tua untuk membekali anak-anaknya dengan ilmu syar’i
karena itulah kunci dari segala kebaikan.
3.Orang Tua
Adalah Tuntunan
Orang tua adalah tuntunan bagi anak-anaknya,
maka dari itu wajib bagi orang tua untuk mentarbiyah anaknya dengan tarbiyah yang
benar, ia wajib menjadi tontonan atau cermin bagi anak-anaknya sehingga ia bisa
menjadi tuntunan untuk mereka dari kecil hingga dewasa dan seterusnya. In sya
Allah
Dan guru yang paling banyak perannya dalam
diri seorang anak adalah orang tua. Dengan itu pantaslah orang tua yang paling
banyak memberikan pelajaran kepada anaknya. Karena itulah yang akan ia bawa
sampai dewasa nantinya.
4. Jaga
Pergaulan
Pergaulan seorang anak juga perlu dikontrol
dan diperhatikan Karena pergaulan bisa merubah sikap seorang anak 99% , banyak
telah kita saksikan seorang anak yang hidup dikalangan keluarga yang paham akan
agama dan terdidik dari kecil, tapi setelah dewasa sikapnya berubah dan tidak
lagi patuh kepada Allah. Ini karena pergaulannya disekolah dan ditempat-tempat
lain yang sangat berpenagruh. Maka dari itu perlu diperhatikan semua
gerak-geriknya, baik ketika menonton ia nonton apa, baik ketika bergaul ia
bergaul dengan siapa, dan sekolah, sekolah dimana dan lain sebagianya.
Semenjak kecil seorang anak memang harus
dijauhkan dari tontonan-tontonan yang tidak syar’I karena anak-anak itu seperti
pohon, ketika pohon masih kecil masih bisa di miringkan kiri dan kanan, tapi
ketika sudah besar dan menjulang tinggi maka pohon itu tidak bisa lagi dimiringkan
kiri dan kanan, bahkan pohon itu akan patah ketika dipaksakan. Begitupun dengan
anak-anak ketika masih kecil masih bisa diarahkan kiri dan kanan, artinya ia
masih nurut dan masih bisa diatur. Tapi ketika seorang anak dididik ketika
dewasa maka ia akan seperti pohon yang sudah besar dan menjulang tinggi susah
untuk diarahkan. Maka arahkanlah ia kejalan yang benar sebelum ia menjadi
dewasa.
Mari
mentarbiyah diri dan orang lain dengan benar dan menjadi tontonan sekaligus
tuntunan keluarga dan masyarakat. Semoga bermanfaat
Abu uwais
No comments:
Post a Comment