SUDAH SIAPKAH ANDA?

Katakanlah:
"Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya
kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah),
yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang
telah kamu kerjakan."
(QS. Al-jum’ah: 07)
(QS. Al-jum’ah: 07)
Kelahiran
manusia di muka bumi ini adalah salah satu bentuk proses untuk menguji anak
cucu Adam, dan dalam ujian itu hanya ada dua kemungkinan yang terjadi. Entahkah
mereka bersyukur kepada Allah atau kufur. Allah berfirman dalam surah al-insan “entahkah
ia bersykur atau kufur” . Ujian itu akan Allah berikan dalam setiap
lembaran kehidupannya dalam suka maupun duka. Tapi perlu kita ketahui bahwa Allah tidaklah menguji suatu kaum kecuali
dengan kesanggupannya, tapi kenapa manusia kadang mengatakan bahwa aku tidak
sanggup menghadapi cobaan yang ada. Itu karena mereka tidak mau mencoba dan
berusaha, dengan mencoba dan berusaha semua bisa dilakukan meskipun harus gagal
beberapa kali, tapi perlu diketahui bahwa kesuksesan adalah kegagalan yang
menampakkan wajah aslinya. Maka dari itu tidak ada kata menyerah untuk
menghadapi cobaan yang diberikan Allah azza wajalla, karena Allah dalam Alquran
menyebutkan bahwa Allah tidaklah memberikan cobaan kepada hambanya melainkan
sesuai dengan kesanggupannya, artinya Allah sudah mengukur sedemikian rupa
antara cobaan dengan hamba-hambanya, sehingga tidak ada yang tidak cocok dengan
cobaan yang diberikan, karena Allah adalah sebaik-baik pengatur dan tidak
mungkin salah karena Dia-lah yang maha benar.
Manusia
setelah dilahirksn akan melalui beberapa fase pertumbuhan. Dari bayi hingga menjadi
dewasa dari dewasa menjadi tua. Tapi yang namanya kematian tidak harus datang
pada orang yang sudah tua, tapi Allah mengambil nyawa manusia sesuai dengan
kadar yang sudah Allah tuliskan.
“Dia-lah
yang menciptakan kamu dari tanah kemudian dari setetes mani, sesudah itu dari
segumpal darah, kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, kemudian
(kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa (dewasa), kemudian
(dibiarkan kamu hidup lagi) sampai tua, di antara kamu ada yang diwafatkan
sebelum itu. (Kami perbuat demikian) supaya kamu sampai kepada ajal yang
ditentukan dan supaya kamu memahami(nya). (QS. Al-mu’min: 67)
Salah satu
cobaan Allah yang sering kali kita saksikan adalah kematian. Anak cucu Adam tidak akan
pernah terlepas dari kematian, karena “semua yang bernyawa pasti akan
merasakan kematian”. Bumi ini adalah persinggahan sementara untuk mencari
bekal untuk di kemudian hari yang tidak ada lagi waktu untuk bercocok tanam,
hari itu adalah hari panen tidak ada lagi waktu untuk menanam. Diantara mereka
ada yang memetik buah-buah yang manis dan segar karena buah itulah yang mereka
tanam, dan diantara mereka ada pula yang memetik buah-buah berbau busuk dan
kotor karena itulah yang mereka tanam. Barang siapa yang menanam kebaikan maka
buahnya juga adalah kebaikan dan baragsiapa yang menanam biji yang busuk maka
itu pulalah yang akan ia peroleh. Sekarang mari kita bermuhasabah, sudah berapa
banyak umur yang telah kita habiskan? Dan apakah dalam lembaran-lembaran itu
kita sudah menanam biji-biji kebaikan yang akan berbuah kebaikan? Ataukah kita
telah menanam buah-buah yang busuk nan kotor yang akan menghasilkan buah yang
kotor lagi busuk.
Allah maha pengasih dan maha penyayang,
karena saat ini kita masih diberikan kesempatan untuk menghirup udara segar di
permukaan bumi ini. Maka dari itu marilah kita bersyukur kepada Allah sebelum
datang hari dimana kita tidak bisa lagi bersyukur dan meminta ampunan Allah
azza wajalla. Tidakkah kita teringat dengan Fir’aun yang mau bertobat kepada
Allah, tapi sayang seribu sayang nyawa sudah di tenggorokan sehingga taubatnya
tidaklah diterima.
Kita telah
mengethui bahwa kehidupan ini begitu singkat, tapi terkadang kita lupa bahwa
kita akan kembali kepada Allah. Tiap hari kadang kita menyaksikan orang yang
meninggal dunia entahkah tetangga kita yang meninggal, ataukah pesawat jatuh.
Atau kadang kita ikut serta dalam shalat jenazah tapi tidak ada pegaruhnya sama
sekali, entahkah ini karena banyakya dosa atau kurangnya iman. Wallahu a’lam
Kematian itu pasti akan datang cepat atau
lambat, tua atau muda, gagah atau jelek dan lain sebagainya. Allah tidak pernah menjadikan tua sebagai
syarat untuk meninggalkan dunia, Allah juga tidak pernah menjadikan sakit
sebagai syarat untuk meninggalkan dunia. Tapi Allah sudah menuliskan di dalam
lauh mahfuuz jauh-jauh sebelum kita dilahirkan. Fulan umurnya Cuma sekian dan
sekian, dan lain sebgainya. Maka dari itu wajar kalau ada bayi, anak muda,
orang gagah atau orang jelek yang meninggal dunia, karena disitulah batas umur
yang Allah tuliskan dalam lauh mahfuzz.
Maka dari
itu, marilah kita mempersiapkan bekal yang sebanyak-banyaknya selagi masih ada
kesempatan untuk beramal, karena akan datang suatu hari penhisaban dan tidak ada
lagi waktu untuk amal, dan hari ini adalah hari untuk beramal dan tidak ada
hisab. Maka dari itu marilah kita memanfaatkan waktu yang ada, karena tidaklah
diantara kita mengetahui batas waktu yang dituliskan oleh Allah azza wajalla.
Tidak menuntut kemungkinan setelah kita membaca tulisan ini kita masih bisa
bernafas, tidak menuntut kemungkinan setelah kita beranjak dari tempat duduk
kita kita masih bisa bernafas, karena Allah mengambil nyawa manusia di manapun
dan kapanpun, syi’na am abaina (entahkah kita mau atau enggan).
BEKAL YANG
DIPERLUKAN
Allah
mencabut nyawa kapan dan dimanapun, maka tentunya kita juga harus mempersiapkan
bekal untuk menghadapinya, agar supaya tidak terjadi penyesalan di kemudian
hari. Diantara bekal-bekal yang perlu untuk kita persiapkan adalah:
1.
Amal sholih, sodaqoh jariyah,
ilmu yang bermanfaat. Rosululloh
bersabda: “Bila manusia mati akan terputus darinya semua amalannya
kecuali tiga, shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak sholih yang
mendo’akannya.” (HR. Muslim: 1631)
2.
Berdo’a agar dikaruniai husnul khotimah
Rosululloh n pernah bersabda: “Barang
siapa yang benar-benar memohon
kepada
Alloh q untuk mati syahid, maka
Alloh akan menyampaikannya
kepada tingkatan para syuhada walaupun ia
meninggal di atas kasurnya.” (HR. Muslim: 1909)
3. Meminta
agar dihindarkan dari azab kubur
Ali radiyallahu anhu pernah mengatakan ketika
beliau berada di dalam kubur yang sementara digali
( celakalah engkau wahai sang mayat, engkau disini sendirian sedangkan Rumahmu
yang mewah mugkin telah ditemapti orang, atau mungkin hartamu telah dibagi-bagi
dan mungkin istrimu telah dinikahi oleh orang lain.”
4. Bertaubat
dan banyak istighfar
Karena pada dasarnya tabiat manusia
sangat cenderung untuk berbuat salah dan dosa, juga kita tidak akan pernah tahu kapan Robb kita
menghendaki nyawa ini dicabut.” (HR. Muslim: 2702)
5. Memohon
kepada Alloh untuk diteguhkan hatinya
dalam agama Islam,
karena hati manusia adalah berbolak-balik.
SALAF DAN
KEMATIAN
Para salafus
sholeh sangat memperhatikan kematian sehingga mereka memanafaatkan waktu-waktu
yang ada semaksimal mungkin. Hingga akhir hayatnya diantara mereka masih ada
yang sempat meriwayatkan hadits Rasulullah sallallahualaihiwasallam, kemudian
setelah itu beliau meninggal dunia.
Dia adalah
Abu Zurah, ulama besar, namun ketika beliau dalam sakaratul maut ada
disekelilingnya para ulama juga, kemudian mereka malu mentalqin abu Zur’ah,
karena abu Zurah ini lebih tua dan lebih banyak ilmunya, maka mereka saling
memuroja’ah saling menghapal hadits-hadits Rasulullah dengan bergiliran, dan
ketika sampai ke Abu zur’ah hadits yang beliau sampaikan adalah saya mendengar
dari fulan bin fulan, berkata Rasulullah man kaana akhIruu kalaamihi lailaha
illaah dakhala jannah (siapa yang akhir ucapannya kalimat LAA ILAAHAA ILLALLAH
maka ia akan masuk surga) kemudian beliau meninggal dunia.
Abu Hurairah ketika beliau berada dalam
sakaratul maut beliau menangis lalu dikatakan kepadanya: anda ini adalah
seorang sahabat, anda banyak meriwayatkan hadits dari Rasulullah. Beliaupun
mengatakan bakaitu likillatizzat wa bu’dil masaafah (aku menangis karena
sedikitnya bekal dan jauhnya perjalanan).
Syaikh Utsaimin
ketika beliau sakit, beliau disampaikan oleh seorang dokter, wahai syaikh
sepertinya penyakit anda ini yang akan mengantarkan anda pada kematian, lalu
beliau menangis kemudian beliau ditanya, mengapa engkau menangis wahai syaikh?
beliau katakana saya menangis bukan karena penyakit yang saya derita tapi saya
menangis kalau itu memang sudah dekat Allah subhanahu wata’ala yang selama ini
aku rindukan dan tidak ada jalan lain untuk bertemu dengan Allah kecuali
kematian maka kematian itulah yang aku harapkan, karena saya ingin bertemu
dengan Allah azza wajalla.
Itulah mereka
para ulama, mereka beramal dengan ilmu-ilmu mereka dengan sunnah Rasulullah.
Tapi mereka tetap merasa hina dihadapn Allah azza wajalla. Mudah-mudahan kita
dikaruniai oleh Allah kehidupan yang berberkah sehingga kita bisa menutup
kehidupan kita lebih baik daripada mereka. Amin yarobbal alamin. Wallahu a’lam
bisshawab
Abu Uwais
No comments:
Post a Comment