Friday, February 28, 2014

TUNGGU KEDATANGANKU

SUDAH SIAPKAH ANDA?

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhJutj3UPdib3RIE8sZpZ0FSEJaHly74ZRugcrgksZXnbzLkFDp8yHpOrrz0x5n9Xg_3A7uf1WmbGlIfxdhT4v2c0nUW4WvwJ47V9J_E3CdNhQu6x9wm3i2vHRXWhmBHvnw9XzvsVGcsRo/s1600/Hayat+Al-Maut+Fi+Bayan+Samaa+Al-Amwat+By+Ahmad+Raza+Khan+Pdf.jpg
Katakanlah: "Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan."
(QS. Al-jum’ah: 07)
            Kelahiran manusia di muka bumi ini adalah salah satu bentuk proses untuk menguji anak cucu Adam, dan dalam ujian itu hanya ada dua kemungkinan yang terjadi. Entahkah mereka bersyukur kepada Allah atau kufur. Allah berfirman dalam surah al-insan “entahkah ia bersykur atau kufur” . Ujian itu akan Allah berikan dalam setiap lembaran kehidupannya dalam suka maupun duka. Tapi perlu kita ketahui bahwa  Allah tidaklah menguji suatu kaum kecuali dengan kesanggupannya, tapi kenapa manusia kadang mengatakan bahwa aku tidak sanggup menghadapi cobaan yang ada. Itu karena mereka tidak mau mencoba dan berusaha, dengan mencoba dan berusaha semua bisa dilakukan meskipun harus gagal beberapa kali, tapi perlu diketahui bahwa kesuksesan adalah kegagalan yang menampakkan wajah aslinya. Maka dari itu tidak ada kata menyerah untuk menghadapi cobaan yang diberikan Allah azza wajalla, karena Allah dalam Alquran menyebutkan bahwa Allah tidaklah memberikan cobaan kepada hambanya melainkan sesuai dengan kesanggupannya, artinya Allah sudah mengukur sedemikian rupa antara cobaan dengan hamba-hambanya, sehingga tidak ada yang tidak cocok dengan cobaan yang diberikan, karena Allah adalah sebaik-baik pengatur dan tidak mungkin salah karena Dia-lah yang maha benar.

Manusia setelah dilahirksn akan melalui beberapa fase pertumbuhan. Dari bayi hingga menjadi dewasa dari dewasa menjadi tua. Tapi yang namanya kematian tidak harus datang pada orang yang sudah tua, tapi Allah mengambil nyawa manusia sesuai dengan kadar yang sudah Allah tuliskan.
“Dia-lah yang menciptakan kamu dari tanah kemudian dari setetes mani, sesudah itu dari segumpal darah, kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa (dewasa), kemudian (dibiarkan kamu hidup lagi) sampai tua, di antara kamu ada yang diwafatkan sebelum itu. (Kami perbuat demikian) supaya kamu sampai kepada ajal yang ditentukan dan supaya kamu memahami(nya). (QS. Al-mu’min: 67)
Salah satu cobaan Allah yang sering kali kita saksikan  adalah kematian. Anak cucu Adam tidak akan pernah terlepas dari kematian, karena “semua yang bernyawa pasti akan merasakan kematian”. Bumi ini adalah persinggahan sementara untuk mencari bekal untuk di kemudian hari yang tidak ada lagi waktu untuk bercocok tanam, hari itu adalah hari panen tidak ada lagi waktu untuk menanam. Diantara mereka ada yang memetik buah-buah yang manis dan segar karena buah itulah yang mereka tanam, dan diantara mereka ada pula yang memetik buah-buah berbau busuk dan kotor karena itulah yang mereka tanam. Barang siapa yang menanam kebaikan maka buahnya juga adalah kebaikan dan baragsiapa yang menanam biji yang busuk maka itu pulalah yang akan ia peroleh. Sekarang mari kita bermuhasabah, sudah berapa banyak umur yang telah kita habiskan? Dan apakah dalam lembaran-lembaran itu kita sudah menanam biji-biji kebaikan yang akan berbuah kebaikan? Ataukah kita telah menanam buah-buah yang busuk nan kotor yang akan menghasilkan buah yang kotor lagi busuk.
       Allah maha pengasih dan maha penyayang, karena saat ini kita masih diberikan kesempatan untuk menghirup udara segar di permukaan bumi ini. Maka dari itu marilah kita bersyukur kepada Allah sebelum datang hari dimana kita tidak bisa lagi bersyukur dan meminta ampunan Allah azza wajalla. Tidakkah kita teringat dengan Fir’aun yang mau bertobat kepada Allah, tapi sayang seribu sayang nyawa sudah di tenggorokan sehingga taubatnya tidaklah diterima.
Kita telah mengethui bahwa kehidupan ini begitu singkat, tapi terkadang kita lupa bahwa kita akan kembali kepada Allah. Tiap hari kadang kita menyaksikan orang yang meninggal dunia entahkah tetangga kita yang meninggal, ataukah pesawat jatuh. Atau kadang kita ikut serta dalam shalat jenazah tapi tidak ada pegaruhnya sama sekali, entahkah ini karena banyakya dosa atau kurangnya iman. Wallahu a’lam
 Kematian itu pasti akan datang cepat atau lambat, tua atau muda, gagah atau jelek dan lain sebagainya.  Allah tidak pernah menjadikan tua sebagai syarat untuk meninggalkan dunia, Allah juga tidak pernah menjadikan sakit sebagai syarat untuk meninggalkan dunia. Tapi Allah sudah menuliskan di dalam lauh mahfuuz jauh-jauh sebelum kita dilahirkan. Fulan umurnya Cuma sekian dan sekian, dan lain sebgainya. Maka dari itu wajar kalau ada bayi, anak muda, orang gagah atau orang jelek yang meninggal dunia, karena disitulah batas umur yang Allah tuliskan dalam lauh mahfuzz.
Maka dari itu, marilah kita mempersiapkan bekal yang sebanyak-banyaknya selagi masih ada kesempatan untuk beramal, karena akan datang suatu hari penhisaban dan tidak ada lagi waktu untuk amal, dan hari ini adalah hari untuk beramal dan tidak ada hisab. Maka dari itu marilah kita memanfaatkan waktu yang ada, karena tidaklah diantara kita mengetahui batas waktu yang dituliskan oleh Allah azza wajalla. Tidak menuntut kemungkinan setelah kita membaca tulisan ini kita masih bisa bernafas, tidak menuntut kemungkinan setelah kita beranjak dari tempat duduk kita kita masih bisa bernafas, karena Allah mengambil nyawa manusia di manapun dan kapanpun, syi’na am abaina (entahkah kita mau atau enggan).
BEKAL YANG DIPERLUKAN
Allah mencabut nyawa kapan dan dimanapun, maka tentunya kita juga harus mempersiapkan bekal untuk menghadapinya, agar supaya tidak terjadi penyesalan di kemudian hari. Diantara bekal-bekal yang perlu untuk kita persiapkan adalah:
1.   Amal sholih, sodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat. Rosululloh  bersabda: “Bila manusia mati akan terputus darinya semua amalannya kecuali tiga, shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak sholih yang mendo’akannya.” (HR. Muslim: 1631)
2. Berdo’a agar dikaruniai husnul khotimah
    Rosululloh n pernah bersabda: “Barang siapa yang benar-benar memohon
   kepada  Alloh q untuk mati syahid, maka Alloh  akan menyampaikannya
   kepada tingkatan para syuhada walaupun ia meninggal di atas kasurnya.” (HR. Muslim: 1909)
3. Meminta agar dihindarkan dari azab kubur
 Ali radiyallahu anhu pernah mengatakan ketika beliau berada di dalam kubur yang sementara        digali ( celakalah engkau wahai sang mayat, engkau disini sendirian sedangkan Rumahmu yang mewah mugkin telah ditemapti orang, atau mungkin hartamu telah dibagi-bagi dan mungkin istrimu telah dinikahi oleh orang lain.”
4. Bertaubat dan banyak istighfar
Karena pada dasarnya tabiat manusia sangat cenderung untuk berbuat salah dan dosa, juga kita   tidak akan pernah tahu kapan Robb kita menghendaki nyawa ini dicabut.” (HR. Muslim: 2702)
5. Memohon kepada Alloh  untuk diteguhkan hatinya dalam agama Islam,
    karena hati manusia adalah berbolak-balik.
SALAF DAN KEMATIAN
Para salafus sholeh sangat memperhatikan kematian sehingga mereka memanafaatkan waktu-waktu yang ada semaksimal mungkin. Hingga akhir hayatnya diantara mereka masih ada yang sempat meriwayatkan hadits Rasulullah sallallahualaihiwasallam, kemudian setelah itu beliau meninggal dunia.
Dia adalah Abu Zurah, ulama besar, namun ketika beliau dalam sakaratul maut ada disekelilingnya para ulama juga, kemudian mereka malu mentalqin abu Zur’ah, karena abu Zurah ini lebih tua dan lebih banyak ilmunya, maka mereka saling memuroja’ah saling menghapal hadits-hadits Rasulullah dengan bergiliran, dan ketika sampai ke Abu zur’ah hadits yang beliau sampaikan adalah saya mendengar dari fulan bin fulan, berkata Rasulullah man kaana akhIruu kalaamihi lailaha illaah dakhala jannah (siapa yang akhir ucapannya kalimat LAA ILAAHAA ILLALLAH maka ia akan masuk surga) kemudian beliau meninggal dunia.
 Abu Hurairah ketika beliau berada dalam sakaratul maut beliau menangis lalu dikatakan kepadanya: anda ini adalah seorang sahabat, anda banyak meriwayatkan hadits dari Rasulullah. Beliaupun mengatakan bakaitu likillatizzat wa bu’dil masaafah (aku menangis karena sedikitnya bekal dan jauhnya perjalanan).
Syaikh Utsaimin ketika beliau sakit, beliau disampaikan oleh seorang dokter, wahai syaikh sepertinya penyakit anda ini yang akan mengantarkan anda pada kematian, lalu beliau menangis kemudian beliau ditanya, mengapa engkau menangis wahai syaikh? beliau katakana saya menangis bukan karena penyakit yang saya derita tapi saya menangis kalau itu memang sudah dekat Allah subhanahu wata’ala yang selama ini aku rindukan dan tidak ada jalan lain untuk bertemu dengan Allah kecuali kematian maka kematian itulah yang aku harapkan, karena saya ingin bertemu dengan Allah azza wajalla.
Itulah mereka para ulama, mereka beramal dengan ilmu-ilmu mereka dengan sunnah Rasulullah. Tapi mereka tetap merasa hina dihadapn Allah azza wajalla. Mudah-mudahan kita dikaruniai oleh Allah kehidupan yang berberkah sehingga kita bisa menutup kehidupan kita lebih baik daripada mereka. Amin yarobbal alamin. Wallahu a’lam bisshawab
Abu Uwais

No comments:

Post a Comment

Cinta Dari Langit Ke-7

                                         CINTA DARI LANGIT KE TUJUH          Cinta Allah selalu ada dimanapun  dan bagaimanapun keada...